Landasan psikologi memberikan sumbangan dalam dunia pendidikan. Kita ketahui bahwa Subjek dan objek pendidikan adalah manusia (peserta didik). Setiap peserta didik memiliki keunikan masing – masing dan berbeda satu sama lain. Oleh sebab itulah, kita sebagai guru memerlukan psikologi. Dengan adanya psikologi memberikan wawasan bagaimana memahami perilaku individu dalam proses pendidikan dan bagaimana membantu individu agar dapat berkembang secara optimal serta mengatasi permasalahan yang timbul dalam diri individu (siswa) terutama masalah belajar yang dalam hal ini adalah masalah dari segi pemahaman dan keterbatasan pembelajaran yang dialami oleh siswa. Psikologi dibutuhkan di berbagai ilmu pengetahuan untuk mengerti dan memahami kejiwaan seseorang.
Psikologi memiliki peran dalam dunia pendidikan baik itu dalam belajar dan pembelajaran. Pengetahuan tentang psikologi sangat diperlukan oleh pihak guru atau instruktur sebagai pendidik, pengajar, pelatih, pembimbing, dan pengasuh dalam memahami karakteristik kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta secara integral. Pemahaman psikologis peserta didik oleh pihak guru atau instruktur di institusi pendidikan memiliki kontribusi yang sangat berarti dalam membelajarkan peserta didik sesuai dengan sikap, minat, motivasi, aspirasi, dan kebutuhan peserta didik, sehingga proses pembelajaran di kelas dapat berlangsung secara optimal dan maksimal.
Pengetahuan tentang psikologi diperlukan oleh dunia pendidikan karena dunia pendidikan menghadapi peserta didik yang unik dilihat dari segi karakteristik perilaku, kepribadian, sikap, minat, motivasi, perhatian, persepsi, daya pikir, inteligensi, fantasi, dan berbagai aspek psikologis lainnya yang berbeda antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lainnya. Perbedaan karakteristik psikologis yang dimiliki oleh para peserta didik harus diketahui dan dipahami oleh setiap guru atau instruktur yang berperan sebagai pendidik dan pengajar di kelas, jika ingin proses pembelajarannya berhasil
Beberapa peran penting psikologi dalam proses pembelajaran adalah :
1. Memahami siswa sebagai pelajar, meliputi perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dan lain-lain
2. Memahami prinsip – prinsip dan teori pembelajaran
3. Memilih metode – metode pembelajaran dan pengajaran
4. Menetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran
5. Menciptakan situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondusif
6. Memilih dan menetapkan isi pengajaran
7. Membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
8. Memilih alat bantu pembelajaran dan pengajaran
9. Menilai hasil pembelajaran dan pengajaran
10. Memahami dan mengembangkan kepribadian dan profesi guru
11. Membimbing perkembangan siswa
Menurut Abimanyu (1996) mengemukakan bahwa peranan psikologi dalam pendidikan dan pengajaran ialah bertujuan untuk memberikan orientasi mengenai laporan studi, menelusuri masalah-masalah di lapangan dengan pendekatan psikologi serta meneliti faktor-faktor manusia dalam proses pendidikan dan di dalam situasi proses belajar mengajar. Psikologi dalam pendidikan dan pengajaran banyak mempengaruhi perumusan tujuan pendidikan, perumusan kurikulum maupun prosedur dan metode-metode belajar mengajar. Psikologi ini memberikan jalan untuk mendapatkan pemecahan atas masalah-masalah sebagai berikut:
1. Perubahan yang terjadi pada anak didik selama dalam proses pendidikan
2. Pengaruh pembawaan dan lingkungan atas hasil belajar
3. Teori dan proses belajar
4. Hubungan antara teknik mengajar dan hasil belajar.
5. Perbandingan hasil pendidikan formal dengan pendidikan informal atas diri individu.
6. Pengaruh kondisi sosial anak didik atas pendidikan yang diterimanya.
7. Nilai sikap ilmiah atas pendidikan yang dimiliki oleh para petugas pendidikan.
8. Pengaruh interaksi antara guru dan murid dan antara murid dengan murid.
9. Hambatan, kesulitan, ketegangan, dan sebagainya yang dialami oleh anak didik selama proses pendidikan
10. Pengaruh perbedaan individu yang satu dengan individu yang lain dalam batas kemampuan belajar
** Bebas disunting dengan menyebutkan sumber **
http://www.zainalhakim.web.id/peran-psikologi-dalam-dunia-pendidikan.html
PENYIMPANGAN PERILAKU ANAK SEKOLAH DASAR
Oleh Kelompok 9
(Ardhi Tri utomo, Nur Wijayanto, dan Windra Jemi Rokhmad)
Setiap anak mengalami tahap-tahap perkembangan. Tahap-tahap perkembangan anak secara umum sama. Pada setiap tahap perkembangan, setiap anak dituntut dapat bertindak atau melaksanakan hal-hal (perilaku) yang menjadi tugas perkembangannya dengan baik.
Perilaku adalah segala sesuatu yang diperbuat oleh seseorang atau pengalaman. Kartono dalam Darwis (2006: 43) mengemukakan bahwa ada dua jenis perilaku manusia, yakni perilaku normal dan perilaku abnormal. Perilaku normal adalah perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya, sedangkan parilaku abnormal adalah perilaku yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada. Perilaku abnormal ini juga biasa disebut perilaku menyimpang atau perilaku bermasalah.
Apabila anak dapat melaksanakan tugas perilaku pada masa perkembangannya dengan baik, anak tersebut dikatakan berperilaku normal. Masalah muncul apabila anak berperilaku tidak sesuai dengan tugas perkembangannya. Anak yang berperilaku diluar perilaku normal disebut anak yang berperilaku menyimpang (child deviant behavior).
Perilaku anak menyimpang memiliki hubungan dengan peyesuaian anak tersebut dengan lingkungannya. Hurlock (2004: 39) mengatakan bahwa perilaku anak bermasalah atau menyimpang ini muncul karena penyesuaian yang harus dilakukan anak terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan yang baru. Berarti semakin besar tuntutan dan perubahan semakin besar pula masalah penyesuaian yang dihadapi anak tersebut.
Perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah (Darwis, 2006: 43). Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab anak yang bermasalah biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya.
Walaupun gejala perilaku bermasalah di sekolah itu mungkin hanya tampak pada sebagian anak, pada dasarnya setiap anak memiliki masalah-masalah emosional dan penyesuaian sosial. Masalah itu tidak selamanya menimbulkan perilaku bermasalah atau menyimpang yang kronis (darwis, 2006: 44).
Guru sering kali menanggapi perilaku anak yang bermasalah atau menyimpang dengan memberikan perlakuan secara langsung dan drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau pendekatan seperti ini sering kali tidak membawa hasil yang diharapkan karena perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada dibalik perilaku bermasalah (Darwis, 2006: 44). Sekalipun demikian pemahaman terhadap perilaku bermasalah bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan guru.
Bertolak dari paparan di atas, permasalahan dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut: apa saja gejala-gelaja penyimpangan perilaku anak SD dan apa saja jenis-jenis penyimpangan perilaku anak SD. Tujuan yang ingin dicapai adalah memaparkan atau mendeskripsikan gejala-gelaja penyimpangan dan jenis-jenis perilaku menyimpang anak SD.
PEMBAHASAN
Makalah ini membahas tentang gejala-gejala penyimpangan perilaku anak SD dan dan jenis-jenis penyimpangan perilaku pada anak SD. Penjelasan mengenai hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.
Gejala-gejala penyimpangan perilaku pada anak SD
Gejala penyimpangan perilaku anak merupakan tanda-tanda munculnya perilaku menyimpang pada anak. Gejala-gejala penyimpangan perilaku anak merupakan perbuatan atau atau perilaku anak SD yang dapat menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami penyimpangan perilaku anak SD yang bersangkutan. Secara umum gejala ini berasal dari dalam diri anak dan dari lingkungan sekitar. Gejala penyimpangan perilaku dari dalam diri anak SD muncul akibat ketidakmampuan anak tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan di mana ia berada. Hal tersebut juga akan mengakibatkan anak berperilaku mundur ke perilaku yang sebelumnya ia lalui (Hurlock, 2004: 39). Sedangkan gejala penyimpangan perilaku pada anak yang berasal dari lingkungan sekitar menurut Hurlock (2004: 288) antara lain pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak, pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah, lingkungan rumah kurang memberikan model perilaku untuk ditiru, kurang motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.
Pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak bermakna bahwa para orang tua dan guru sering menganggap perilaku normal yang mengganggu ketenangan di rumah atau kelancaran sekolah sebagai perilaku bermasalah. Bila mereka beranggapan seperti itu si anak mungkin akan mengembangkan sikap yang tidak menyenangkan terhadap mereka dan terhadap situasi di mana perilaku itu terjadi (Hurlock, 2004: 39). Akibatnya ialah si anak mengembangkan perilaku yang merupakan masalah yang serius, misalnya berbohong, berbuat licik atau merusak sebagai cara membalas dendam.
Pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah merupakan hal yang menjadikan anak akan menemui kesulitan untuk melakukan penyesuaian sosial yang baik di luar rumah, meskipun dia diberikan motivasi kuat untuk melakukannya. Hurlock (2004: 288) memberikan contoh bahwa, anak yang diasuh dengan metode otoriter, misalnya, sering mengembangkan sikap benci terhadap semua figur berwenang. Contoh yang lain adalah pola asuh yang serba membolehkan di rumah, anak akan menjadi orang yang tidak mau memperhatikan keinginan orang lain, merasa dia dapat mengatur dirinya sendiri.
Kurangnya motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial merupakan hal yang sering timbul dari pengalaman sosial awal yang tidak menyenangkan baik di rumah atau di luar rumah (Hurlock, 2004: 288). Sebagai contoh, anak yang selalu digoda atau diganggu oleh saudaranya yang lebih tua, atau yang diperlakukan sebagai orang yang tidak dikehendaki dalam permainan mereka, tidak akan memiliki motivasi kuat untuk berusaha melakukan penyesuaian sosial yang baik di luar rumah.
Anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar. Hurlock (2004: 288) menyatakan bahwa meskipun anak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar melakukan enyesuaian sosial yang baik, anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar itu. Sebagai contoh apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan dapat “menguasai” agresivitasnya setelah bertambah dewasa dan mengalami hubungan sosial yang lebih banyak, anak itu tidak akan mengasosiasikan agresivitasnya dengan penolakan teman sebaya yang dialaminya dan, akibatnya dia tidak akan berusaha untuk mengurangi agresivitasnya.
Jenis-jenis atau bentuk-bentuk perilaku menyimpang pada anak SD
Salah satu tujuan memahami perilaku bermasalah ialah karena perilaku tersebut muncul untuk menghindar atau mempertahankan diri. Dalam psikologi perilaku ini disebut mekanisme pertahanan diri yang disebabkan oleh karena anak menghadapi kecemasan dan tidak mampu menghadapinya (Darwis, 2006: 43). Kecemasan pada dasarnya adalah ketegangan psikologis sebagai akibat dari ketidakpuasan dalam pemenuhan kebutuhan. Disebut mekanisme pertahanan diri, karena dengan perilaku tersebut individu dapat mempertahankan diri atau menghindar dari situasi yang menimbulkan ketegangan.
Bentuk-bentuk atau jenis-jenis perilaku menyimpang atau mekanisme pertahanan diri ini antara lain rasionalisasi, sifat bermusuhan, menghukum diri sendiri, refresi/penekanan, konformitas, dan sinis (Darwis, 2006 : 44). Adapun bentuk-bentuk atau jenis-jenis perilaku menyimpang anak SD dijelaskan pada paparan berikut ini.
Rasionalisasi
Rasionalisasi dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut “memberikan alasan”. Memberikan alasan yang dimaksud adalah memberikan penjelasan atas perilaku yang dilakukan oleh individu dan penjelasan tersebut biasanya cukup logis dan rasional tetapi pada dasarnya apa yang dijelaskan itu bukan merupakan penyebab nyata karena dengan penjelasan tersebut sebenarnya individu bermaksud menyembunyikan latar belakang perilakunya (Darwis, 2006: 44).
Sifat Bermusuhan
Sikap individu yang menganggap individu lain sebagai musuh/saingan. Menurut Darwis (2006: 45) sikap bermusuhan ini tampak dalam perilaku agresif, menyerang, mengganggu, bersaing dan mengancam lingkungan.
Menghukum diri sendiri
Perilaku menghukum diri sendiri terjadi karena individu merasa cemas bahwa orang lain tidak akan menyukai dia sekiranya dia mengkritik orang lain. Orang seperti ini memiliki kebutuhan untuk diakui dan disukai amat kuat (Kartadinata, 1999: 196).
Refresi/penekanan
Refresi ditunjukkan dalam bentuk menyembunyikan dan menekan penyebab yang sebenarnya ke luar batas kesadaran. Individu berupaya melupakan hal-hal yang menimbulkan penderitaan hidupnya.
Konformitas
Perilaku ini ditunjukkan dalam bentuk menyelamatkan diri dari perasaan tertekan atau bersalah terhadap pemenuhan harapan orang lain. Tujuan anak melakukan hal ini agar ia terhindar dari perasaan cemas.
Sinis
Perilaku ini muncul dari ketidak berdayaan individu untuk berbuat atau berbicara dalam kelompok. Ketidak berdayaan ini membuat dirinya khawatir dan cenderung menghindar dari penilaian orang lain.
Semua perilaku mekanisme pertahanan diri di atas mempunyai karakteristik (darwis, 2006: 45). Karakteristik tersebut antara lain: (a) menolak, memalsukan, atau mengacaukan kenyataan, (b) dilakukan tanpa menyadari latar belakang perilaku tersebut. Pola perilaku pertahanan diri ini cenderung kepada pengurangan kecemasan dan bukan pemecahan masalah yang menjadi dasar penyebab kecemasan itu.
KESIMPULAN
Gejala perilaku menyimpang pada anak SD dapat muncul dari dalam diri anak tersebut dan dari lingkungan sekitarnya. Gejala yang muncul dari dalam dirinya adalah perilaku anak yang mundur ke perilaku yang sebelumnya ia lalui. Sedangkan gejala yang muncul dari luar diri anak atau muncul dari lingkungan sekitar anak antara lain pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak, pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah, lingkungan rumah kurang memberikan model perilaku untuk ditiru, kurang motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.
Jenis-jenis atau bentuk-bentuk perilaku menyimpang anak SD merupakan mekanisme pertahanan diri anak tersebut yang disebabkan oleh karena anak menghadapi kecemasan dan tidak mampu menghadapinya. Adapun jenis-jenis penyimpangan perilaku anak SD antara lain rasionalisasi, sifat bermusuhan, menghukum diri sendiri, refresi/penekanan, konformitas, dan sinis.
DAFTAR RUJUKAN
Darwis, Abu. 2006. Perilaku Menyimpang Murid SD. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan
Hurlock, Elizabeth. B. 2004. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Kartadinata, Sunaryo. 1999. Bimbingan Di Sekolah Dasar. Bandung: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Makalah Pendekatan dalam Memecahkan Problem di Kelas
Selasa, Mei 07, 2013 Materi Kuliah No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dari kegiatan pengajaran. Tujuan pengajaran akan tercapai jika pesrta didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan peserta didik tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai, karena peserta didik tidak merasakan perubahan dalam diri. Namun, selain peserta didik guru juga dituntut untuk memahami masalah-masalah yang ditemui peserta didik agar dapat mempermudah peserta didik untuk memahami bahkan mengamalkan ilmu yang didapat.
Guru professional berusaha mendorong siswa agar belajar secara berhasil. Ia menemukan bahwa ada bermacam hal yang menyebabkan siswa belajar.ada siswa yang tidak belajar karena dimarahi oleh orang tua. Ada siswa yang enggan belajar karena pindah tempat tinggal. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian waktu guru mengajarkan topic tertentu. Ada pula siswa yang giat belajar karena bercita-cita menjadi seorang ahli. Bermacam-macam keadaan siswa tersebut menggambarkan bahwa pengetahuan tentang masalah-masalah belajar merupakan hal yang sangat penting bagi guru atau calon guru. Dalam makalah ini kami membahas mengenai jenis penyimpangan tingkah laku dalam masalah individual yang mengganggu belajar mengajar. Kondisi belajar yang baik akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang baik, begitu pula sebaliknya.
B.Landasan Teori
Aktivitas belajar bagi individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
Demikian antara lain kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dalam keadaan di mana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut kesulitan belajar.
Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Karena itu, dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada anak didik, maka para pendidik perlu memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar. Didalam kelas terdapat banyak karakter siswa yang harus diketahui oleh seorang guru. Ketika peserta didik melakukan penyimpangan tingkah laku dalam proses belajar mengajar, maka seorang guru akan lebih mudah untuk menentukan langkah apa yang harus diambil atau dengan pendekatan apa yang diambil guru untuk memcahkan problem yang terjadi didalam kelas.
C.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan sebuah masalah yaitu sebagai berikut:
1.Apa yang dimaksud dengan belajar mengajar ?
2.Apa saja masalah yang ditemui dalam belajar mengajar ?
3.Apa yang dimaskud dengan prilaku menyimpang?
4.Jenis-jenis penyimpangan tingkah laku dalam belajar?
5.Gejala penyimpangan perilaku pada anak?
6.Apasaja pendekatan dalam belajar mengajar ?
D.Tujuan Masalah
Tujuan dari pembahasan makalah ini diharapkan:
1.Untuk mengetahuai apa yang dimaksud dengan belajar mengajar.
2.Untuk memahami apa saja masalah yang ditemui dalam belajar mengajar.
3.Untuk mengetahui apa itu prilaku menyimpang, jenis-jenis nya, gejala, dan pendekatan dalam belajar mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Jenis Penyimpangan tingkah laku dalam belajar mengajar
1.Pengertian perilaku menyimpang
Perilaku adalah segala sesuatu yang diperbuat oleh seseorang atau pengalaman. Ada dua jenis perilaku manusia, yakni perilaku normal dan perilaku abnormal. Perilaku normal adalah perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya, sedangkan parilaku abnormal adalah perilaku yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada. Perilaku abnormal ini juga biasa disebut perilaku menyimpang atau perilaku bermasalah. Apabila anak dapat melaksanakan tugas perilaku pada masa perkembangannya dengan baik, anak tersebut dikatakan berperilaku normal.
Masalah muncul apabila anak berperilaku tidak sesuai dengan tugas perkembangannya. Anak yang berperilaku diluar perilaku normal disebut anak yang berperilaku menyimpang (child deviant behavior). Perilaku anak menyimpang memiliki hubungan dengan penyesuaian anak tersebut dengan lingkungannya. Perilaku anak bermasalah atau menyimpang ini muncul karena penyesuaian yang harus dilakukan anak terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan yang baru. Berarti semakin besar tuntutan dan perubahan semakin besar pula masalah penyesuaian yang dihadapi anak tersebut.
Perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah.
Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab anak yang bermasalah biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya. Walaupun gejala perilaku bermasalah di sekolah itu mungkin hanya tampak pada sebagian anak, pada dasarnya setiap anak memiliki masalah-masalah emosional dan penyesuaian sosial. Masalah itu tidak selamanya menimbulkan perilaku bermasalah atau menyimpang yang kronis.
Guru sering kali menanggapi perilaku anak yang bermasalah atau menyimpang dengan memberikan perlakuan secara langsung dan drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau pendekatan seperti ini sering kali tidak membawa hasil yang diharapkan karena perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada dibalik perilaku bermasalah. Sekalipun demikian pemahaman terhadap perilaku bermasalah bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan guru.
2.Gejala Penyimpangan Perilaku pada Anak
Gejala penyimpangan perilaku anak merupakan tanda-tanda munculnya perilaku menyimpang pada anak. Gejala-gejala penyimpangan perilaku anak merupakan perbuatan atau atau perilaku anak yang dapat menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami penyimpangan perilaku yang bersangkutan. Secara umum gejala ini berasal dari dalam diri anak dan dari lingkungan sekitar.
Gejala penyimpangan perilaku dari dalam diri anak muncul akibat ketidakmampuan anak tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan di mana ia berada. Hal tersebut juga akan mengakibatkan anak berperilaku mundur ke perilaku yang sebelumnya ia lalui. Sedangkan gejala penyimpangan perilaku pada anak yang berasal dari lingkungan sekitar menurut antara lain pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak, pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah, lingkungan rumah kurang memberikan model perilaku untuk ditiru, kurang motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.
3.Jenis-jenis penyimpangan tingkah laku siswa dalam belajar mengajar
a.Rasionalisasi
Rasionalisasi dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut “memberikan alasan”. Memberikan alasan yang dimaksud adalah memberikan penjelasan atas perilaku yang dilakukan oleh individu dan penjelasan tersebut biasanya cukup logis dan rasional tetapi pada dasarnya apa yang dijelaskan itu bukan merupakan penyebab nyata karena dengan penjelasan tersebut sebenarnya individu bermaksud menyembunyikan latar belakang perilakunya .
b.Sifat Bermusuhan
Sikap individu yang menganggap individu lain sebagai musuh/saingan. Sikap bermusuhan ini tampak dalam perilaku agresif, menyerang, mengganggu, bersaing dan mengancam lingkungan.
c.Menghukum diri sendiri
Perilaku menghukum diri sendiri terjadi karena individu merasa cemas bahwa orang lain tidak akan menyukai dia sekiranya dia mengkritik orang lain. Orang seperti ini memiliki kebutuhan untuk diakui dan disukai amat kuat.
d.Refresi/penekanan
Refresi ditunjukkan dalam bentuk menyembunyikan dan menekan penyebab yang sebenarnya ke luar batas kesadaran. Individu berupaya melupakan hal-hal yang menimbulkan penderitaan hidupnya.
e.Konformitas
Perilaku ini ditunjukkan dalam bentuk menyelamatkan diri dari perasaan tertekan atau bersalah terhadap pemenuhan harapan orang lain. Tujuan anak melakukan hal ini agar ia terhindar dari perasaan cemas.
f.Sinis
Perilaku ini muncul dari ketidakberdayaan individu untuk berbuat atau berbicara dalam kelompok. Ketidakberdayaan ini membuat dirinya khawatir dan cenderung menghindar dari penilaian orang lain. Semua perilaku mekanisme pertahanan diri di atas mempunyai karakteristik. Karakteristik tersebut antara lain:
1)menolak, memalsukan, atau mengacaukan kenyataan.
2)dilakukan tanpa menyadari latar belakang perilaku tersebut. Pola perilaku pertahanan diri ini cenderung kepada pengurangan kecemasan dan bukan pemecahan masalah yang menjadi dasar penyebab kecemasan itu.
B.Pendekatan dalam memecahkan problem di kelas
BAB III
HASIL OBSERVASI
Observasi dilakukan di MI Miftahul Ulum Braja Selebah, Lampung Timur. Ketika penyusun datang ke sekolah tersebut sedang diadakan Try Out bagi kelas VI dan proses belajar mengajar tidak dilangsungkan di kelas melainkan diliburkan. Namun saya dapat menemui wali kelas 4, yaitu Ibu Fatim, dan menanyakan problem-problem apasajakah yang terjadi di kelas beliau. Beliau menjelaskan bahwa di kelas tersebut terdapat 45 siswa siswi, 20 siswa laki-laki dan 25 siswi perempuan. Dengan jumlah siswa yang banyak dikelas tersebut, guru sedikit kesulitan awalnya, namun seiring berjalannya waktu, guru merasa terbiasa. Di kelas tersebut terdapat beberapa anak yang memiliki keterbatasan sehingga kurang mampu untuk mengikuti pembelajaran sehingga tertinggal dengan teman-temannya. Disamping itu anak tersebut juga masih kesulitan dalam membaca sampai kelas 4 ini. Upaya-upaya telah dilakukan mulai dari pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh guru. Siswa tersebut merupakan pindahan dari MI dari desa lain, sehingga murid tersebut memang bukan murid yang dari kelas satu sudah belajar di MI Miftahul Ulum. Guru juga sudah melakukan perbincangan dengan orang tua murid tersebut, dan memang anak tersebut memiliki kekurangan dan susah dalam menerima materi yang diajarkan.
BAB IV
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dilihat dari penjabaran diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah. Banyak pendekatan yang bisa dilakukan oleh guru dalam memecahkan problem di kelas, antara lain : pendekatan individual, kelompok, edukatif, keagamaan, dan masih banyak lagi pendekatan yang bisa dipergunakan guru dalam mengatasi problem di kelas.
B.Saran
Melalui makalah ini semoga dapat memberikan kita pengetahuan baru untuk membantu bagaimana cara memahami kemudian memberikan solusi dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan masalah yang datang pada peserta didik. Sebagai calon guru, kita harus mengerti karakter siswa yang kita didik. Jadi ketika peerta didik kita mengalami masalah dalam belajar, kita dapat mengetahui langkah apa yang akan kita ambil, pendekatan apa yang akan kita pakai untuk mengatasi problem tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1.M.Dalyono.2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
2.Aunurrahman.2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung Al-fabeta.
3.Akla.2004.Strategi Belajar Mengajar.Metro: STAIN JUSI Metro.
4.Hurlock, Elizabeth. B. 2004. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
5.Darwis, Abu. 2006. Perilaku Menyimpang Murid SD. Jakarta.
6.Bahri Djamarah, Saiful. 2010. Strategi belajar mengajar. Jakarta : Rineka cipta.
Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan
Remaja di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSUPN
dr. Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta
Tjhin Wiguna,* Paul Samuel Kris Manengkei,** Christa Pamela,**
Agung Muhammad Rheza,**Windy Atika Hapsari**
* Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Departemen Psikiatri FKUI/RSUPN-CM
**Mahasiswa S1, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Latar belakang. Anak dengan masalah emosi dan perilaku mempunyai kerentanan untuk mengalami
hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, terutama dalam fungsi belajar dan sosialisasi. Masalah tersebut
seringkali sulit dikenali oleh orangtua sehingga anak dengan masalah ini datang berobat dalam kondisi
yang cukup berat.
Tujuan. Untuk mengetahui persepsi orangtua terhadap perubahan emosi dan perilaku pada anak mereka
pada saat berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSCM Jakarta selama periode November
2009–Mei 2010.
Metode. Penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari catatan medik anak dan remaja di
Poliklinik Anak dan Remaja RSCM, selama periode November 2009 – Mei 2010. Kriteria inklusi adalah,
catatan medik lengkap mengenai data anak beserta orangtuanya, dan kuesioner Strength and Difficulties
Questionaire (SDQ) diisi dengan lengkap.
Hasil. Selama periode enam bulan didapatkan 161 subjek penelitian yang memenuhi kriteria yang sudah
ditentukan. Enam puluh lima koma sembilan puluh persen dari seluruh subjek penelitian berada pada usia
kurang dari 12 tahun dan mempunyai tingkat pendidikan setara dengan sekolah dasar. Proporsi terbesar
adalah masalah hubungan dengan teman sebaya 54,81%, dan masalah emosional 42,2%.
Kesimpulan. Masalah teman sebaya dan emosi merupakan masalah yang terbesar yang dijumpai pada pasien
anak dan remaja yang datang berobat ke Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSCM. Perlu dipertimbangkan
untuk menerapkan suatu program keterampilan sosial di masyarakat atau sekolah sehingga diharapkan
dapat menurunkan masalah ini di kemudian hari. Sari Pediatri 2010;12(4):270-7.
Kata kunci: emosi, perilaku, anak, SDQ.
Alamat korespondensi:
Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K), Staf Pengajar Divisi Psikiatri Anak dan
Remaja, Departemen Psikiatri FKUI/RSCM, Jalan Kimia 2/35, Jakarta
10430. Telepon/Fax 021310741, 02139899128
271
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
hendaya dan menurunkan produktivitas serta kualitas
hidup mereka. Satu setengah juta anak dan remaja
di Amerika Serikat dilaporkan oleh orangtuanya,
memiliki masalah emosional, perkembangan, dan
perilaku yang persisten. Sebagai contoh, 41% orang
tua di Amerika Serikat khawatir anaknya mengalami
kesulitan belajar dan 36% khawatir akan mengalami
gangguan depresi atau ansietas.1
Di Singapura, 12,5% anak usia 6–12 tahun
memiliki masalah emosi dan perilaku.2 Salah satu
faktor yang dikaitkan dengan timbulnya masalah ini
adalah kehidupan di kota besar yang penuh dengan
tuntutan dan tekanan bagi perkembangan dan
pertumbuhan anak dan remaja, sedangkan faktor usia
anak, jenis kelamin, dan perkerjaan orangtua hampir
dikatakan tidak berpengaruh terhadap timbulnya
masalah tersebut.3
Berbagai stresor psikososial seringkali dikaitkan
dengan terjadinya masalah emosi dan perilaku pada
anak dan remaja, seperti adanya penyakit fisik, pola
asuh yang inadekuat, kekerasan dalam rumah tangga,
hubungan dengan teman sebaya yang inadekuat, serta
kemiskinan. Stresor psikososial tersebut mempengaruhi
proses perkembangan kognitif anak sehingga anak
lebih memandang negatif lingkungan sekitar dan juga
persepsi yang negatif mengenai dirinya. Disamping itu,
stresor psikososial juga berkaitan dengan peningkatan
emosi negatif, perilaku disruptif dan impulsif, serta
menimbulkan cara-cara interaksi yang negatif sehingga
berdampak pada hubungan dengan teman sebaya yang
tidak optimal.4,5
Masalah emosi dan perilaku yang terjadi berdampak
terhadap tumbuh kembang dan kehidupan
sehari-hari anak. Gangguan perkembangan kognitif,
kesulitan dalam belajar karena mereka tidak mampu
berkonsentrasi terhadap pelajaran, kemampuan
mengingat yang buruk, atau bertingkah yang tidak
sesuai di dalam lingkungan sekolah, akan meningkatkan
angka kenakalan dan kriminalitas di masa
dewasa.4
Anak dengan masalah emosi dan perilaku seringkali
mengalami perlakukan yang tidak sesuai dari
lingkungannya yang dapat berupa stigma negatif.
Guru merasa sulit mengajari mereka, melihat
mereka sebagai anak-anak bodoh, sehingga jarang
memberikan masukan yang positif. Teman sebaya
menjauhi mereka, sehingga kesempatan untuk belajar
bersosialisasi menjadi berkurang. Orangtua lebih
banyak memberikan kritik negatif sehingga tidak
jarang interaksi antara orangtua dan anak menjadi
terputus5,6
Melihat sedemikian luasnya faktor risiko dan
dampak yang mungkin terjadi maka sudah sewajarnya
orangtua atau guru harus lebih menyadari kondisi ini
dengan melakukan deteksi dini sehingga masalah emosi
dan perilaku pada anak dan remaja dapat ditangani
sedini mungkin untuk menghindari terjadinya
gangguan jiwa di kemudian hari. Dengan demikian,
orangtua merupakan salah satu kunci penting dalam
mendeteksi masalah emosi dan perilaku dan juga
merupakan kunci keberhasilan tatalaksana yang akan
diberikan pada anak mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data
yang berkaitan dengan persepsi orangtua terhadap
perubahan emosi dan perilaku anak mereka pada saat
berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja
RSCM, Jakarta selama periode November 2009 – Mei
2010 sehingga dapat memberikan gambaran seberapa
jauh orangtua dapat mendeteksi masalah emosi dan
perilaku pada anak mereka.
Metode
Telah dilakukan penelitian deskriptif dengan rancangan
potong lintang. Data sekunder di peroleh dari catatan
medik anak dan remaja yang berobat di Poliklinik Anak
dan Remaja RSCM selama periode November 2009 –
Mei 2010. Maka subjek penelitian adalah seluruh anak
dan remaja yang datang berobat di Poliklinik Anak
dan Remaja RSCM dalam periode penelitian yang
memenuhi kriteria inklusi yaitu catatan medik lengkap,
berisi data anak beserta orangtuanya dan mengisi alat
skrining SDQ dengan lengkap.
Skrining SDQ merupakan suatu alat yang
dikembangkan oleh Robert Goodman pada tahun
1997, alat skrining tersebut sudah diterjemahkan
ke dalam berbagai bahasa di dunia termasuk dalam
Bahasa Indonesia. Skrining SDQ terdiri dari 25 buah
pernyataan yang dapat dikelompokkan menjadi lima
domain yaitu, (1) gejala emosional (5 pernyataan),
(2) masalah conduct (5 pernyataan), (3) hiperaktivitas
(5 pernyataan), (4) masalah hubungan dengan teman
sebaya (5 pernyataan), dan (5) perilaku prososial (5
pernyataan). Setiap pernyataan dijawab oleh orangtua
atau remaja dengan tidak pernah (skor 0), kadang benar
(skor 1), dan selalu benar (skor 2).7
Hasil akhir penelitian menitikberatkan masalah
272
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
distribusi frekuensi. Hasil akhir disajikan dalam bentuk
tabular dan tekstular.
Hasil
Selama periode enam bulan didapatkan 161 subjek
penelitian yang memenuhi kriteria yang sudah
ditentukan. Enam puluh lima koma sembilan puluh
persen dari seluruh subjek penelitian berada pada
usia kurang dari 12 tahun dan mempunyai tingkat
pendidikan setara dengan sekolah dasar. Proporsi
subjek penelitian dengan jenis kelamin laki-laki lebih
banyak daripada perempuan (Tabel 1).
Proporsi terbesar usia ayah subjek di atas 40
tahun (60,9%) dan usia ibu di bawah 40 tahun
(53,4%). Proporsi tingkat pendidikan tertinggi ayah
dan ibu adalah SMA (44,1% dan 41,6%). Umumnya
orangtua subjek penelitian berasal dari kelompok sosial
ekonomi menengah berdasarkan tingkat pendapatan
keluarga (76,4%) dan bekerja sebagai pegawai swasta
(49,1%).
Proporsi terbesar adalah masalah hubungan dengan
teman sebaya 54,81%, dan masalah emosional 42,2%
(Tabel 2). Anak yang berusia kurang dari 12 tahun
lebih banyak mengalami masalah hubungan dengan
teman sebaya (39,1%), sedangkan remaja lebih banyak
mengalami masalah emosi (33,5%) (Gambar 1). Anak
emosi dan perilaku anak dan remaja, yaitu dengan
menganalisis domain masalah emosi, masalah conduct,
hiperaktivitas, dan masalah hubungan dengan teman
sebaya, tanpa menganalisis skala prososial.
Sebelum analisis data dilakukan, pertama-tama
dilakukan pembersihan data. Penilaian SDQ dilakukan
dengan menjumlahkan angka-angka yang merupakan
jawaban dari pertanyaan dalam alat skrining SDQ.
Data yang terkumpul dimasukan ke dalam tabel,
dilakukan pengolahan dengan menghitung skor
yang tertinggi dan skor terendah untuk menentukan
Tabel 1. Sebaran subjek penelitian berdasarkan karakteristik
demografis (n=161)
Karakteristik Jumlah Persentase
Gambar 1. Proporsi masalah emosi dan perilaku berdasarkan
kelompok usia dan domain masalah (n=155)
Tabel 2. Sebaran karakteristik masalah emosi dan perilaku subjek penelitian berdasarkan SDQ (n=161)
Masalah emosi dan perilaku Normal (%) Borderline (%) Abnormal (%)
Masalah emosi
Masalah conduct
Hiperaktivitas
Masalah hubungan dengan teman sebaya
75 (46,6)
70 (43,5)
75 (45,1)
60 (36,1)
18 (11,2)
29 (18,0)
28 (16,8)
15 (9,1)
68 (42,2)
62 (38,5)
57 (38,1)
86 (54,8)
273
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
lelaki lebih banyak mengalami masalah hubungan
dengan teman sebaya, sedangkan anak perempuan
lebih banyak mengalami masalah emosi dan juga
masalah hubungan dengan teman sebaya (20,5%)
(Gambar 2).
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan beberapa data
yang menarik untuk didiskusikan. Orangtua lebih
banyak mengeluhkan masalah hubungan dengan
teman sebaya (54,8%) sebagai masalah utama anak
mereka yang berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak
dan Remaja RSCM Jakarta. Permasalahan ini terutama
dijumpai pada anak lelaki yang masih berusia di bawah
12 tahun.
Orangtua mempunyai persepsi bahwa masalah
hubungan dengan teman sebaya merupakan masalah
yang cukup serius, terutama anak yang memasuki usia
remaja. Teman sebaya bagi anak yang berusia 9–13
tahun, paling besar pengaruhnya terhadap kehidupan
mereka sehari-hari disamping orangtua.6 Dengan
adanya masalah hubungan dengan teman sebaya ini
tentunya berdampak dalam fungsi keseharian anak
dan remaja sehingga membuat orangtua menjadi
lebih waspada dan membawa mereka untuk datang
berkonsultasi oleh karena adanya hendaya dalam
interaksi sehari-hari.
Masalah emosi merupakan masalah kedua dengan
proporsi cukup besar (42,2%) yang dikemukakan
oleh orangtua. Masalah emosi dalam SDQ mencakup
masalah depresi dan juga cemas. Garland (2001)8
melaporkan bahwa 33,6% anak yang datang ke pusat
pelayanan kesehatan jiwa dengan masalah emosi.
Angka yang didapatkan dalam penelitian kami
sedikit lebih tinggi daripada angka yang didapatkan
oleh penelitian yang dilakukan oleh Garland.
Anak perempuan di bawah usia 12 tahun ternyata
mengalami masalah emosi yang lebih banyak pada
penelitian kami, kondisi ini sesuai dengan penelitian
yang telah dilakukan di berbagai negara.9 Masalah
emosi yang dinilai termasuk gejala depresi dan cemas,
karena dalam periode usia ini anak mengalami krisis
perkembangan. Anak mengalami perubahan hormonal
dan juga perubahan sikap lingkungan sehingga lebih
memicu terjadinya masalah emosi bagi anak dengan
kerentanan tertentu.
Masalah conduct juga merupakan masalah perilaku
yang dijumpai pada anak dan remaja dengan proporsi
yang cukup besar terutama pada kelompok remaja.
Namun dijumpai proporsi yang lebih tinggi pada
anak di bawah usia 12 tahun, dan hasil ini berbeda
dengan berbagai hasil yang ditemukan dalam penelitian
di luar negeri.1,3,10 Beberapa hal yang mungkin
berkaitan dengan kondisi tersebut adalah RSUPNCM
merupakan rumah sakit rujukan yang sudah lama
memberikan pelayanan kesehatan jiwa sehingga lebih
banyak anak dengan masalah conduct berkonsultasi;
orangtua sudah lebih waspada dengan berbagai masalah
conduct sehingga mereka mencari pertolongan yang
lebih dini sebelum anak memasuki usia remaja; adanya
penggeseran perkembangan masa remaja ke usia yang
lebih awal sehingga masalah sudah tampak di periode
remaja awal.
Terdapat beberapa hal yang menjadi hipotesis
sehubungan dengan didapatkannya berbagai data
yaitu, 1) adanya tantangan hidup termasuk tantangan
di sekolah yang bertambah besar sehingga anak dan
remaja lebih banyak menginternalisasikan (dalam
bentuk masalah emosi) dan mengkesternalisasikan
(dalam bentuk masalah conduct dan hubungan
dengan sebaya) berbagai konflik yang ada dalam diri
mereka; 2) isu globalisasi sehingga arus informasi yang
datang begitu banyak dan anak dan remaja belum
menghadapinya dengan baik; dan 3) berbagai krisis
di kota besar yang berdampak dalam perkembangan
emosi anak dan remaja. Tentunya semua kondisi
tersebut masih perlu dilakukan pengkajian lebih
lanjut.
Gambar 2. Proporsi masalah emosi dan perilaku berdasarkan
jenis kelamin dan domain masalah (n=161)
274
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
Penelitian kami tidak mencari berbagai faktor yang
berkaitan dengan terjadinya masalah emosi dan perilaku.
Disamping itu SDQ merupakan suatu alat skrining
yang diisi oleh orangtua maupun remaja sehingga dapat
terjadi bias pengisian yang tentunya sangat berpengaruh
terhadap hasil penelitian. Untuk itu disarankan agar
melakukan penelitian yang juga memasukan berbagai
faktor risiko yang mungkin berkaitan dengan terjadinya
masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di
kemudian hari sehingga wawasan kita mengenai kondisi
ini bertambah banyak.
Daftar pustaka
1. Blanchard LT, Gurka MJ, Blackman JA. Emotional,
developmental, and behavioral health of American
children and teir families: A report from the 2003 national
survey of children’s health. Pediatrics.2006;117:1202-
12.
2. Woo BSC, Ng TP, Fung DSS, Chan YH, Lee YP, Koh
JBK, dkk. Emotional and behavioral problems in
Singaporean children based on parent, teacher, and child
reports. Singopre Med J. 2007;48:1100-6.
3. Erol N, Simsek Z, Oner O, Munir K. Behavioral and
emotional problemsamong Turkish children at ages
2 to 3 years. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry
2005;44:80-5.
4. Gimpel GA. Holland ML. Emotional and behavioral
problmes in young children: effective interventions in the
preschool and kindergarten years. New York: Guilford;
2003.h.112-3.
5. Gelder MG, Lopez Ibor JJ, Andreasen N. New oxford
textbook of psychiatry. Oxford University Press; 2003.
h.123-5
6. Collett, B. R., Gimpel, G. A., Greenson, J. N., &
Gunderson, T. L. Assessment of discipline styles among
parents of preschool through school-age children. J
Psychopathol and Behavior Assess 2001;23:163-170.
7. Goodman R. The stregth and difficulties questionaire:
A research note. J Child Psychol Psychiatry.
1997;38:581-6
8. Garland AF, dkk. Prevalence of psychiatric disorders in
youth across five sectors of care. J Am Acad Child Adolesc
Psy 2001;40:409-18.
9. Verhulst FC. Epidemiology as a basis for conception and
planning for services. Dalam: Remschmidt H, Belfer
ML, Goodyer I, penyunting. Facilitating pathways care,
treatment and prevention in child and adolescent mental
health. Germany: Springer; 2004. h.3-15.
10. Fox L, Dunlap G, Powell D. Young children with
challenging behavior: Issues and consideration for
behaviora problem support. Journal of Positive Behavior
Intervention. 2002:4:208-17
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Taylor menyatakan, salah satu aspek kebudayaan adalah norma atau perilaku terpilih yang dianut sebagian besar masyarakat. Copy paste dipilih dan dianut oleh sebagian besar mahasiswa, sehingga lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan membudaya. Budaya copy paste dilatarbelakangi oleh kemalasan belajar dan belajar malas di kalangan mahasiswa. Akibatnya, tergeruslah jati diri mahasiswa. Mereka tak lagi percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual di masyarakat memiliki tiga peran utama. Pertama, sebagai pentransfer ilmu, teknologi, dan nilai. Mahasiswa memiliki peran untuk menyebarkan ilmu, turut serta dalam memberantas kebodohan. Sebagai pengguna terdekat teknologi, mahasiswa berperan menggunakan dan menciptakan teknologi yang tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sebagai pentransfer nilai, diharapkan mahasiswa menjadi tuntunan moral intelektual bagi masyarakat.
Kedua, mahasiswa sebagai agent of change, agen perubahan, turut serta dalam proses pembangunan dan pergerakan. Dalam pembangunan masyarakat dan bangsa, mahasiswa merupakan sumber daya manusia yang potensial karena terdidik dan terpelajar.
Dalam pergerakan, mahasiswa diharapkan mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa. Ketiga, mahasiswa sebagai kaum intelektual semestinya mampu mempertanggungjawabkan intelektualitasnya pada diri sendiri dan masyarakat.
Budaya copy paste membuat ruang kritis mahasiswa menyempit. Itu terlihat dari makin minim budaya membaca, budaya diskusi, dan budaya beprestasi. Padahal, budaya-budaya itu merupakan penumbuh budaya intelektual. Jika budaya-budaya itu tergusur oleh budaya copy paste, tergusurlah ranah intelektualitas yang seharusnya dimiliki kalangan mahasiswa.
Sebenarnya copy paste boleh-boleh saja, asal tidak meninggalkan unsur kekritisan. Karena kekritisan akan memunculkan budaya baru, yaitu budaya kreatif dan produktif. Tanpa kekritisan akan mengakibatkan kematian dalam berpikir. Kematian berpikir tentu mengakibatkan kematian bertindak.
1.2 Tujuan
• Menumbuhkan budaya intelektual
• Menumbuhkan rasa percaya diri,kemampuan berpikir dan potensi belajar
• menghadapi rasa malas dalam belajar dikalangan mahasiswa.
• Menumbuhkan budaya kreatif dan produktif
1.3Sasaran
• Menyelesaikan masalah-masalah tentang Perilaku malas.
• Meningkatkan kreatifitas mahasiswa
• Menumbuhkan pergerakan mahasiswa mengurangi rasa malas
• Terwujudnya kepribadian yang baik
BAB II PERMASALAHAN
Analisis permasalahan Perilaku Malas Cenderung Membudaya Dikalangan Mahasiswa dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi lingkungan internal maupun eksternal dilihat dari aspek :
1. Kekuatan (Strength)
a) Mahasiswa memiliki peran untuk menyebarkan ilmu
b) turut serta dalam memberantas kebodohan.
c) mahasiswa menjadi tuntunan moral intelektual bagi masyarakat.
d) turut serta dalam proses pembangunan dan pergerakan.
2. Kelemahan (Weakness)
a) Terjebak dalam kebiasaan buruk yaitu rasa malas pada mahasiswa
b) Budaya copy paste dilatarbelakangi oleh kemalasan belajar dan belajar malas di kalangan mahasiswa.
c) Tak lagi percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir akibat dari rasa malas pada mahasiswa.
d) Budaya copy paste membuat ruang kritis mahasiswa menyempit.
3. Peluang (Opportunity)
a) Mahasiswa berperan menggunakan dan menciptakan teknologi yang tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
b) merupakan sumber daya manusia yang potensial karena terdidik dan terpelajar.
c) mahasiswa mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa.
d) Mahasiwa sebagai generasi penerus bangsa yang kreatif,produktif,dan
berprestasi dalam cerminan bangsa dan dunia.
4. Tantangan/Hambatan (Threats)
a) Kurangnya sumber daya manusia yang potensial.
b) Kurangnya fasilitas sarana dan prasarana.
c) Terbatasnya nilai ekonomi pada masyarakat sehingga banyak mahasiswa yang putus kuliah.
d) kurangnya percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir yang menghambat pada mahasiswa.
BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1. Kesimpulan
Kesimpulan yang di ambil dari makalah yang saya buat adalah membahas tentang SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dari Perilaku Malas Cenderung Membudaya Dikalangan Mahasiswa yang menyebabkan kemalasan belajar dan belajar malas di kalangan mahasiswa, Mereka tak lagi percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir. Oleh,karena itu mahasiwa harus dapat berubah menjadi lebih baik,berprestasi,kreatif,dan produktif. karena mahasiswa memiliki peran untuk menyebarkan ilmu, turut serta dalam memberantas kebodohan,dan mahasiswa mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa.
2. Rekomendasi
a) Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat karena itu mahasiswa menjadi tuntunan moral intelektual bagi masyarakat.
b) Mahasiswa harus membiasakan sifat rajin belajar dan mengelola waktu dengan baik agar tidakTerjebak dalam kebiasaan buruk yaitu rasa malas pada mahasiswa
c) Mahasiswa harus diberikan dukungan dalam prestasi karena Mahasiwa sebagai generasi penerus bangsa yang kreatif,produktif, dan berprestasi dalam cerminan bangsa dan dunia.
d) Pemerintah seharusnya membantu mahasiswa yang kurang mampu seperti memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi untuk meningkatkan semangat belajar para mahasiswa dan mengurangi sumber daya manusia yang rendah.
3. Referensi
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/02/12/136770/Budaya-Copy-Paste-Mahasiswa
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya pendidikan berperan untuk meningkatkan kualitas
manusia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berbudi pekerti yang luhur, mandiri, maju, kreatif, trampil, bertanggung
jawab, produktif serta sehat jasmani dan rohani, sehingga mampu menghadapi
segala perubahan era globalisasi yang menuntut kesiapan sumber daya manusia
bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga harus mampu sebagai pelaku.
Konsekuensi dari masuknya budaya asing, pelaku bisnis, politik, ekonomi, dan
sebagainya, bahkan nilai-nilai budaya asing, seperti perilaku free sex,
pergaulan bebas tanpa batas dan bertolak belakang dengan budaya bangsa
Indonesia, yang mampu menggeser budaya bangsa Indonesia. Untuk itu, yang
mampu menghadapi masalah dan perubahan zaman adalah pemahaman budaya
masyarakat perlu ditanamkan pada siswa sehingga mampu memilah dan
memilih yang terbaik untuk menentukan sikap perilaku yang terbaik bagi diri
sendiri dan bangsa Indonesia.
Kegiatan interaksi belajar mengajar harus selalu ditingkatkan efektifitas
dan efisiensinya. Dengan banyakya kegiatan pendidikan di sekolah, dalam
usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pembelajaran, maka sangat
menyita waktu siswa untuk mengatasi keadaan tersebut, guru perlu
memberikan tugas-tugas di luar jam pelajaran. Disebabkan bila hanya
menggunakan seluruh jam pelajaran. Disebabkan bila hanya menggunakan
2
2
seluruh jam pembelajaran yang ada untuk tiap mata pelajaran hal itu tidak akan
mencukupi tuntutan di dalam kurikulum. Dengan demikian perlu diberikan
tugas-tugas, sebagai selingan untuk variasi teknik penyajian ataupun dapat
berupa pekerjaan rumah. Tugas semacam itu dapat dikerjakan di luar jam
pelajaran, di rumah maupun sebelum pulang, dan atau kegiatan ekstrakurikuler,
sehingga dapat dikerjakan bersama temannya.
Seperti yang berlangsung pada kegiatan ekstrakurikuler yang berupa
seni budaya yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, menanamkan
kesadaran, dan membina mental siswa serta menumbuhkembangkan sikap
perilaku siswa agar sanggup menerima, memahami, dan mengerti tentang
kebudayaan, baik budaya tradisional, budaya masyarakat maupun budaya asing
yang bersifat selektif.
Apakah budaya? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang telah ditanyakan
dan dicari jawabnya sejak era Ibnu Khaldun sampai saat ini. Seolah-olah
jawaban atas pertanyaan itu tidak pernah ada, atau mungkin ketika ditemukan
jawabannya oleh seseorang, maka yang didefinisikan itu (budaya) lantas
berubah. Oleh karenanya orang tak pernah sampai pada keputusan final yang
disepakati oleh semua orang. Apalagi budaya dilihat dari kacamata berlainan
tergantung yang melihatnya. Alhasil konsep budaya berbeda-beda tergantung
siapa yang mendefinisikan konsep tersebut. Dalam buku-buku pengantar
antropologi selalu disebutkan hasil temuan Kroeber & Kluckhon yang
mengidentifikasi definisi budaya. Mereka mencatat sekurang-kurangnya
terdapat 169 definisi berbeda. Hal itu menunjukkan betapa beragamnya sudut
pandang yang digunakan untuk melihat budaya. Masing-masing disiplin ilmu
3
3
memiliki sudut pandangnya sendiri. Bahkan di dalam satu disiplin ilmu
terdapat perbedaan karena pendekatan yang digunakan berbeda. Dalam disiplin
ilmu psikologi misalnya, mungkin saja mereka yang tertarik dengan persoalan
emosi akan mendefinisikan berbeda dengan mereka yang tertarik pada
persoalan kesehatan mental (Mendatu, 2007. “Apakah Budaya”.
www.psikologi.omline.co.id.)
Kemampuan beradaptasi atau penyesuaian diri merupakan bentuk
perilaku pada umumnya yang didasarkan atas keseimbangan kemampuan akal
(kognisi) dan kemampuan rasa (afeksi), dan psikomotor, karena manusia tidak
hanya memiliki otak tetapi juga mempunyai emosi dan keterampilan, baik
keterampilan berkomunikasi maupun keterampilan fisik jasmaniah. Oleh
karena itu, kesadaran terhadap perbedaan daya pikir, emosi, dan keterampilan
manusia merupakan aspek penting keberhasilan penyesuaian diri. Mengingat
manusia tidak hanya berperilaku atas dasar kemampuan akal semata, tetapi
juga didasarkan pada kemampuan rasa, yakni kemampuan menilai perasaan
kepuasan diri sendiri dan orang lain dalam masa perkembangan yang timbul
dalam kehidupan sehari-hari.
Keseimbangan antara komponen kognisi, afeksi, dan psikomotor
mutlak diperlukan. Seseorang yang terlalu mengagungkan kecerdasan akalnya
tanpa diimbangi dengan kemampuan emosional atau sikap, dan psikomotor
diprediksikan bahwa dia akan dapat mengalami kegagalan dalam bersosialisasi
dengan lingkungannya. Kecakapan emosi bukan berarti memanjakan perasaan
dan mengistimewakan sikap, dalam arti memuaskan dirinya sendiri tanpa
memperhatikan orang lain, tetapi mengelola perasaan, sikap, dan keterampilan
4
4
sedemikian rupa sehingga terekspresikan secara tepat dan efektif, yang
memungkinkan orang bekerja sama dengan lancar menuju sasaran bersama.
B. Identifikasi Masalah
Kemampuan beradaptasi atau penyesuaian diri merupakan bentuk
perilaku pada umumnya yang didasarkan atas keseimbangan kemampuan akal
(kognisi) dan kemampuan rasa (afeksi), dan psikomotor, karena manusia tidak
hanya memiliki otak tetapi juga mempunyai emosi dan keterampilan, baik
keterampilan berkomunikasi maupun keterampilan fisik jasmaniah.
Perbedaan daya pikir, emosi, dan keterampilan manusia merupakan
aspek penting keberhasilan penyesuaian diri. Mengingat manusia tidak hanya
berperilaku atas dasar kemampuan akal semata, tetapi juga didasarkan pada
kemampuan rasa, yakni kemampuan menilai perasaan kepuasan diri sendiri dan
orang lain dalam masa perkembangan yang timbul dalam kehidupan seharihari.
Keseimbangan antara komponen kognisi, afeksi, dan psikomotor mutlak
diperlukan.
Seseorang yang mengagungkan kecerdasan akalnya tanpa diimbangi
dengan kemampuan emosional/ sikap, dan psikomotor diprediksikan dia akan
dapat mengalami kegagalan dalam bersosialisasi dengan lingkungannya.
Kecakapan emosi bukan berarti memanjakan perasaan dan mengistimewakan
sikap, dalam arti memuaskan dirinya sendiri tanpa memperhatikan orang lain,
tetapi mengelola perasaan, sikap, dan keterampilan sedemikian rupa sehingga
secara tepat memungkinkan bekerja sama dengan lancar menuju sasaran
bersama.
5
5
Aktivitas bebajar siswa, baik yang berlangsung di sekolah maupun di
luar sekolah, rumah atau tempat lain, senantiasa perlu memperhatikan
kemampuan beradaptasinya, sehingga diperoleh hasil belajar yang optimal,
yaitu menguasai materi yang dipelajari dan mampu berprestasi dengan baik.
C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada masalah budaya masyarakat, pergaulan
teman sebaya, dan perilaku sosial siswa SMA Negeri 1 Karangnongko
Kabupaten Klaten.
D. Rumusan Masalah
1. Adakah kontribusi budaya masyarakat dan pergaulan teman sebaya
terhadap perilaku sosial siswa SMA Negeri 1 Karangnongko Kabupaten
Klaten?
2. Adakah kontribusi budaya masyarakat terhadap perilaku sosial siswa SMA
Negeri 1 Karangnongko Kabupaten Klaten?
3. Adakah kontribusi pergaulan teman sebaya terhadap perilaku sosial siswa
SMA Negeri 1 Karangnongko Kabupaten Klaten?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah ingin mendeskripsikan tentang
budaya masyarakat, pergaulan teman sebaya, dan perilaku sosial siswa.
Sedangkan tujuan khusus penelitian ini ingin mendeskripsikan tentang
kontribusi budaya masyarakat terhadap perilaku sosial siswa, kontribusi
6
6
pergaulan teman sebaya terhadap perilaku sosial siswa, dan kontribusi budaya
masyarakat dan pergaulan teman sebaya terhadap perilaku sosial siswa di
SMA Negeri 1 Karangnongko Klaten.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Dapat digunakan sebagai referensi dan penelitian berikutnya yang
sejenis.
2. Manfaat Praktis
Sedangkan manfaat praktis bagi siswa, memberikan informasi arti
pentingnya budaya masyarakat dan pergaulan teman sebaya terhadap
perilaku sosial siswa di SMA Negeri 1 Karangnongko Klaten, bagi
masyarakat, memberikan masukan bahwa budaya masyarakat dapat
membentuk perilaku sosial dan membangun nilai-nilai pergaulan teman
sebaya terhadap perilaku sosial siswa di SMA Negeri 1 Karangnongko
Klaten.
Senin, 27 Oktober 2014
Masalah Prilaku belajar
Landasan psikologi memberikan sumbangan dalam dunia pendidikan. Kita ketahui bahwa Subjek dan objek pendidikan adalah manusia (peserta didik). Setiap peserta didik memiliki keunikan masing – masing dan berbeda satu sama lain. Oleh sebab itulah, kita sebagai guru memerlukan psikologi. Dengan adanya psikologi memberikan wawasan bagaimana memahami perilaku individu dalam proses pendidikan dan bagaimana membantu individu agar dapat berkembang secara optimal serta mengatasi permasalahan yang timbul dalam diri individu (siswa) terutama masalah belajar yang dalam hal ini adalah masalah dari segi pemahaman dan keterbatasan pembelajaran yang dialami oleh siswa. Psikologi dibutuhkan di berbagai ilmu pengetahuan untuk mengerti dan memahami kejiwaan seseorang.
Psikologi memiliki peran dalam dunia pendidikan baik itu dalam belajar dan pembelajaran. Pengetahuan tentang psikologi sangat diperlukan oleh pihak guru atau instruktur sebagai pendidik, pengajar, pelatih, pembimbing, dan pengasuh dalam memahami karakteristik kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta secara integral. Pemahaman psikologis peserta didik oleh pihak guru atau instruktur di institusi pendidikan memiliki kontribusi yang sangat berarti dalam membelajarkan peserta didik sesuai dengan sikap, minat, motivasi, aspirasi, dan kebutuhan peserta didik, sehingga proses pembelajaran di kelas dapat berlangsung secara optimal dan maksimal.
Pengetahuan tentang psikologi diperlukan oleh dunia pendidikan karena dunia pendidikan menghadapi peserta didik yang unik dilihat dari segi karakteristik perilaku, kepribadian, sikap, minat, motivasi, perhatian, persepsi, daya pikir, inteligensi, fantasi, dan berbagai aspek psikologis lainnya yang berbeda antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lainnya. Perbedaan karakteristik psikologis yang dimiliki oleh para peserta didik harus diketahui dan dipahami oleh setiap guru atau instruktur yang berperan sebagai pendidik dan pengajar di kelas, jika ingin proses pembelajarannya berhasil
Beberapa peran penting psikologi dalam proses pembelajaran adalah :
1. Memahami siswa sebagai pelajar, meliputi perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dan lain-lain
2. Memahami prinsip – prinsip dan teori pembelajaran
3. Memilih metode – metode pembelajaran dan pengajaran
4. Menetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran
5. Menciptakan situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondusif
6. Memilih dan menetapkan isi pengajaran
7. Membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
8. Memilih alat bantu pembelajaran dan pengajaran
9. Menilai hasil pembelajaran dan pengajaran
10. Memahami dan mengembangkan kepribadian dan profesi guru
11. Membimbing perkembangan siswa
Menurut Abimanyu (1996) mengemukakan bahwa peranan psikologi dalam pendidikan dan pengajaran ialah bertujuan untuk memberikan orientasi mengenai laporan studi, menelusuri masalah-masalah di lapangan dengan pendekatan psikologi serta meneliti faktor-faktor manusia dalam proses pendidikan dan di dalam situasi proses belajar mengajar. Psikologi dalam pendidikan dan pengajaran banyak mempengaruhi perumusan tujuan pendidikan, perumusan kurikulum maupun prosedur dan metode-metode belajar mengajar. Psikologi ini memberikan jalan untuk mendapatkan pemecahan atas masalah-masalah sebagai berikut:
1. Perubahan yang terjadi pada anak didik selama dalam proses pendidikan
2. Pengaruh pembawaan dan lingkungan atas hasil belajar
3. Teori dan proses belajar
4. Hubungan antara teknik mengajar dan hasil belajar.
5. Perbandingan hasil pendidikan formal dengan pendidikan informal atas diri individu.
6. Pengaruh kondisi sosial anak didik atas pendidikan yang diterimanya.
7. Nilai sikap ilmiah atas pendidikan yang dimiliki oleh para petugas pendidikan.
8. Pengaruh interaksi antara guru dan murid dan antara murid dengan murid.
9. Hambatan, kesulitan, ketegangan, dan sebagainya yang dialami oleh anak didik selama proses pendidikan
10. Pengaruh perbedaan individu yang satu dengan individu yang lain dalam batas kemampuan belajar
** Bebas disunting dengan menyebutkan sumber **
http://www.zainalhakim.web.id/peran-psikologi-dalam-dunia-pendidikan.html
PENYIMPANGAN PERILAKU ANAK SEKOLAH DASAR
Oleh Kelompok 9
(Ardhi Tri utomo, Nur Wijayanto, dan Windra Jemi Rokhmad)
Setiap anak mengalami tahap-tahap perkembangan. Tahap-tahap perkembangan anak secara umum sama. Pada setiap tahap perkembangan, setiap anak dituntut dapat bertindak atau melaksanakan hal-hal (perilaku) yang menjadi tugas perkembangannya dengan baik.
Perilaku adalah segala sesuatu yang diperbuat oleh seseorang atau pengalaman. Kartono dalam Darwis (2006: 43) mengemukakan bahwa ada dua jenis perilaku manusia, yakni perilaku normal dan perilaku abnormal. Perilaku normal adalah perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya, sedangkan parilaku abnormal adalah perilaku yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada. Perilaku abnormal ini juga biasa disebut perilaku menyimpang atau perilaku bermasalah.
Apabila anak dapat melaksanakan tugas perilaku pada masa perkembangannya dengan baik, anak tersebut dikatakan berperilaku normal. Masalah muncul apabila anak berperilaku tidak sesuai dengan tugas perkembangannya. Anak yang berperilaku diluar perilaku normal disebut anak yang berperilaku menyimpang (child deviant behavior).
Perilaku anak menyimpang memiliki hubungan dengan peyesuaian anak tersebut dengan lingkungannya. Hurlock (2004: 39) mengatakan bahwa perilaku anak bermasalah atau menyimpang ini muncul karena penyesuaian yang harus dilakukan anak terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan yang baru. Berarti semakin besar tuntutan dan perubahan semakin besar pula masalah penyesuaian yang dihadapi anak tersebut.
Perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah (Darwis, 2006: 43). Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab anak yang bermasalah biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya.
Walaupun gejala perilaku bermasalah di sekolah itu mungkin hanya tampak pada sebagian anak, pada dasarnya setiap anak memiliki masalah-masalah emosional dan penyesuaian sosial. Masalah itu tidak selamanya menimbulkan perilaku bermasalah atau menyimpang yang kronis (darwis, 2006: 44).
Guru sering kali menanggapi perilaku anak yang bermasalah atau menyimpang dengan memberikan perlakuan secara langsung dan drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau pendekatan seperti ini sering kali tidak membawa hasil yang diharapkan karena perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada dibalik perilaku bermasalah (Darwis, 2006: 44). Sekalipun demikian pemahaman terhadap perilaku bermasalah bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan guru.
Bertolak dari paparan di atas, permasalahan dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut: apa saja gejala-gelaja penyimpangan perilaku anak SD dan apa saja jenis-jenis penyimpangan perilaku anak SD. Tujuan yang ingin dicapai adalah memaparkan atau mendeskripsikan gejala-gelaja penyimpangan dan jenis-jenis perilaku menyimpang anak SD.
PEMBAHASAN
Makalah ini membahas tentang gejala-gejala penyimpangan perilaku anak SD dan dan jenis-jenis penyimpangan perilaku pada anak SD. Penjelasan mengenai hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.
Gejala-gejala penyimpangan perilaku pada anak SD
Gejala penyimpangan perilaku anak merupakan tanda-tanda munculnya perilaku menyimpang pada anak. Gejala-gejala penyimpangan perilaku anak merupakan perbuatan atau atau perilaku anak SD yang dapat menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami penyimpangan perilaku anak SD yang bersangkutan. Secara umum gejala ini berasal dari dalam diri anak dan dari lingkungan sekitar. Gejala penyimpangan perilaku dari dalam diri anak SD muncul akibat ketidakmampuan anak tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan di mana ia berada. Hal tersebut juga akan mengakibatkan anak berperilaku mundur ke perilaku yang sebelumnya ia lalui (Hurlock, 2004: 39). Sedangkan gejala penyimpangan perilaku pada anak yang berasal dari lingkungan sekitar menurut Hurlock (2004: 288) antara lain pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak, pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah, lingkungan rumah kurang memberikan model perilaku untuk ditiru, kurang motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.
Pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak bermakna bahwa para orang tua dan guru sering menganggap perilaku normal yang mengganggu ketenangan di rumah atau kelancaran sekolah sebagai perilaku bermasalah. Bila mereka beranggapan seperti itu si anak mungkin akan mengembangkan sikap yang tidak menyenangkan terhadap mereka dan terhadap situasi di mana perilaku itu terjadi (Hurlock, 2004: 39). Akibatnya ialah si anak mengembangkan perilaku yang merupakan masalah yang serius, misalnya berbohong, berbuat licik atau merusak sebagai cara membalas dendam.
Pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah merupakan hal yang menjadikan anak akan menemui kesulitan untuk melakukan penyesuaian sosial yang baik di luar rumah, meskipun dia diberikan motivasi kuat untuk melakukannya. Hurlock (2004: 288) memberikan contoh bahwa, anak yang diasuh dengan metode otoriter, misalnya, sering mengembangkan sikap benci terhadap semua figur berwenang. Contoh yang lain adalah pola asuh yang serba membolehkan di rumah, anak akan menjadi orang yang tidak mau memperhatikan keinginan orang lain, merasa dia dapat mengatur dirinya sendiri.
Kurangnya motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial merupakan hal yang sering timbul dari pengalaman sosial awal yang tidak menyenangkan baik di rumah atau di luar rumah (Hurlock, 2004: 288). Sebagai contoh, anak yang selalu digoda atau diganggu oleh saudaranya yang lebih tua, atau yang diperlakukan sebagai orang yang tidak dikehendaki dalam permainan mereka, tidak akan memiliki motivasi kuat untuk berusaha melakukan penyesuaian sosial yang baik di luar rumah.
Anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar. Hurlock (2004: 288) menyatakan bahwa meskipun anak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar melakukan enyesuaian sosial yang baik, anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar itu. Sebagai contoh apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan dapat “menguasai” agresivitasnya setelah bertambah dewasa dan mengalami hubungan sosial yang lebih banyak, anak itu tidak akan mengasosiasikan agresivitasnya dengan penolakan teman sebaya yang dialaminya dan, akibatnya dia tidak akan berusaha untuk mengurangi agresivitasnya.
Jenis-jenis atau bentuk-bentuk perilaku menyimpang pada anak SD
Salah satu tujuan memahami perilaku bermasalah ialah karena perilaku tersebut muncul untuk menghindar atau mempertahankan diri. Dalam psikologi perilaku ini disebut mekanisme pertahanan diri yang disebabkan oleh karena anak menghadapi kecemasan dan tidak mampu menghadapinya (Darwis, 2006: 43). Kecemasan pada dasarnya adalah ketegangan psikologis sebagai akibat dari ketidakpuasan dalam pemenuhan kebutuhan. Disebut mekanisme pertahanan diri, karena dengan perilaku tersebut individu dapat mempertahankan diri atau menghindar dari situasi yang menimbulkan ketegangan.
Bentuk-bentuk atau jenis-jenis perilaku menyimpang atau mekanisme pertahanan diri ini antara lain rasionalisasi, sifat bermusuhan, menghukum diri sendiri, refresi/penekanan, konformitas, dan sinis (Darwis, 2006 : 44). Adapun bentuk-bentuk atau jenis-jenis perilaku menyimpang anak SD dijelaskan pada paparan berikut ini.
Rasionalisasi
Rasionalisasi dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut “memberikan alasan”. Memberikan alasan yang dimaksud adalah memberikan penjelasan atas perilaku yang dilakukan oleh individu dan penjelasan tersebut biasanya cukup logis dan rasional tetapi pada dasarnya apa yang dijelaskan itu bukan merupakan penyebab nyata karena dengan penjelasan tersebut sebenarnya individu bermaksud menyembunyikan latar belakang perilakunya (Darwis, 2006: 44).
Sifat Bermusuhan
Sikap individu yang menganggap individu lain sebagai musuh/saingan. Menurut Darwis (2006: 45) sikap bermusuhan ini tampak dalam perilaku agresif, menyerang, mengganggu, bersaing dan mengancam lingkungan.
Menghukum diri sendiri
Perilaku menghukum diri sendiri terjadi karena individu merasa cemas bahwa orang lain tidak akan menyukai dia sekiranya dia mengkritik orang lain. Orang seperti ini memiliki kebutuhan untuk diakui dan disukai amat kuat (Kartadinata, 1999: 196).
Refresi/penekanan
Refresi ditunjukkan dalam bentuk menyembunyikan dan menekan penyebab yang sebenarnya ke luar batas kesadaran. Individu berupaya melupakan hal-hal yang menimbulkan penderitaan hidupnya.
Konformitas
Perilaku ini ditunjukkan dalam bentuk menyelamatkan diri dari perasaan tertekan atau bersalah terhadap pemenuhan harapan orang lain. Tujuan anak melakukan hal ini agar ia terhindar dari perasaan cemas.
Sinis
Perilaku ini muncul dari ketidak berdayaan individu untuk berbuat atau berbicara dalam kelompok. Ketidak berdayaan ini membuat dirinya khawatir dan cenderung menghindar dari penilaian orang lain.
Semua perilaku mekanisme pertahanan diri di atas mempunyai karakteristik (darwis, 2006: 45). Karakteristik tersebut antara lain: (a) menolak, memalsukan, atau mengacaukan kenyataan, (b) dilakukan tanpa menyadari latar belakang perilaku tersebut. Pola perilaku pertahanan diri ini cenderung kepada pengurangan kecemasan dan bukan pemecahan masalah yang menjadi dasar penyebab kecemasan itu.
KESIMPULAN
Gejala perilaku menyimpang pada anak SD dapat muncul dari dalam diri anak tersebut dan dari lingkungan sekitarnya. Gejala yang muncul dari dalam dirinya adalah perilaku anak yang mundur ke perilaku yang sebelumnya ia lalui. Sedangkan gejala yang muncul dari luar diri anak atau muncul dari lingkungan sekitar anak antara lain pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak, pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah, lingkungan rumah kurang memberikan model perilaku untuk ditiru, kurang motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.
Jenis-jenis atau bentuk-bentuk perilaku menyimpang anak SD merupakan mekanisme pertahanan diri anak tersebut yang disebabkan oleh karena anak menghadapi kecemasan dan tidak mampu menghadapinya. Adapun jenis-jenis penyimpangan perilaku anak SD antara lain rasionalisasi, sifat bermusuhan, menghukum diri sendiri, refresi/penekanan, konformitas, dan sinis.
DAFTAR RUJUKAN
Darwis, Abu. 2006. Perilaku Menyimpang Murid SD. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan
Hurlock, Elizabeth. B. 2004. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Kartadinata, Sunaryo. 1999. Bimbingan Di Sekolah Dasar. Bandung: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Makalah Pendekatan dalam Memecahkan Problem di Kelas
Selasa, Mei 07, 2013 Materi Kuliah No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dari kegiatan pengajaran. Tujuan pengajaran akan tercapai jika pesrta didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan peserta didik tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai, karena peserta didik tidak merasakan perubahan dalam diri. Namun, selain peserta didik guru juga dituntut untuk memahami masalah-masalah yang ditemui peserta didik agar dapat mempermudah peserta didik untuk memahami bahkan mengamalkan ilmu yang didapat.
Guru professional berusaha mendorong siswa agar belajar secara berhasil. Ia menemukan bahwa ada bermacam hal yang menyebabkan siswa belajar.ada siswa yang tidak belajar karena dimarahi oleh orang tua. Ada siswa yang enggan belajar karena pindah tempat tinggal. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian waktu guru mengajarkan topic tertentu. Ada pula siswa yang giat belajar karena bercita-cita menjadi seorang ahli. Bermacam-macam keadaan siswa tersebut menggambarkan bahwa pengetahuan tentang masalah-masalah belajar merupakan hal yang sangat penting bagi guru atau calon guru. Dalam makalah ini kami membahas mengenai jenis penyimpangan tingkah laku dalam masalah individual yang mengganggu belajar mengajar. Kondisi belajar yang baik akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang baik, begitu pula sebaliknya.
B.Landasan Teori
Aktivitas belajar bagi individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
Demikian antara lain kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dalam keadaan di mana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut kesulitan belajar.
Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Karena itu, dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada anak didik, maka para pendidik perlu memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar. Didalam kelas terdapat banyak karakter siswa yang harus diketahui oleh seorang guru. Ketika peserta didik melakukan penyimpangan tingkah laku dalam proses belajar mengajar, maka seorang guru akan lebih mudah untuk menentukan langkah apa yang harus diambil atau dengan pendekatan apa yang diambil guru untuk memcahkan problem yang terjadi didalam kelas.
C.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan sebuah masalah yaitu sebagai berikut:
1.Apa yang dimaksud dengan belajar mengajar ?
2.Apa saja masalah yang ditemui dalam belajar mengajar ?
3.Apa yang dimaskud dengan prilaku menyimpang?
4.Jenis-jenis penyimpangan tingkah laku dalam belajar?
5.Gejala penyimpangan perilaku pada anak?
6.Apasaja pendekatan dalam belajar mengajar ?
D.Tujuan Masalah
Tujuan dari pembahasan makalah ini diharapkan:
1.Untuk mengetahuai apa yang dimaksud dengan belajar mengajar.
2.Untuk memahami apa saja masalah yang ditemui dalam belajar mengajar.
3.Untuk mengetahui apa itu prilaku menyimpang, jenis-jenis nya, gejala, dan pendekatan dalam belajar mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Jenis Penyimpangan tingkah laku dalam belajar mengajar
1.Pengertian perilaku menyimpang
Perilaku adalah segala sesuatu yang diperbuat oleh seseorang atau pengalaman. Ada dua jenis perilaku manusia, yakni perilaku normal dan perilaku abnormal. Perilaku normal adalah perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya, sedangkan parilaku abnormal adalah perilaku yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada. Perilaku abnormal ini juga biasa disebut perilaku menyimpang atau perilaku bermasalah. Apabila anak dapat melaksanakan tugas perilaku pada masa perkembangannya dengan baik, anak tersebut dikatakan berperilaku normal.
Masalah muncul apabila anak berperilaku tidak sesuai dengan tugas perkembangannya. Anak yang berperilaku diluar perilaku normal disebut anak yang berperilaku menyimpang (child deviant behavior). Perilaku anak menyimpang memiliki hubungan dengan penyesuaian anak tersebut dengan lingkungannya. Perilaku anak bermasalah atau menyimpang ini muncul karena penyesuaian yang harus dilakukan anak terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan yang baru. Berarti semakin besar tuntutan dan perubahan semakin besar pula masalah penyesuaian yang dihadapi anak tersebut.
Perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah.
Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab anak yang bermasalah biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya. Walaupun gejala perilaku bermasalah di sekolah itu mungkin hanya tampak pada sebagian anak, pada dasarnya setiap anak memiliki masalah-masalah emosional dan penyesuaian sosial. Masalah itu tidak selamanya menimbulkan perilaku bermasalah atau menyimpang yang kronis.
Guru sering kali menanggapi perilaku anak yang bermasalah atau menyimpang dengan memberikan perlakuan secara langsung dan drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau pendekatan seperti ini sering kali tidak membawa hasil yang diharapkan karena perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada dibalik perilaku bermasalah. Sekalipun demikian pemahaman terhadap perilaku bermasalah bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan guru.
2.Gejala Penyimpangan Perilaku pada Anak
Gejala penyimpangan perilaku anak merupakan tanda-tanda munculnya perilaku menyimpang pada anak. Gejala-gejala penyimpangan perilaku anak merupakan perbuatan atau atau perilaku anak yang dapat menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami penyimpangan perilaku yang bersangkutan. Secara umum gejala ini berasal dari dalam diri anak dan dari lingkungan sekitar.
Gejala penyimpangan perilaku dari dalam diri anak muncul akibat ketidakmampuan anak tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan di mana ia berada. Hal tersebut juga akan mengakibatkan anak berperilaku mundur ke perilaku yang sebelumnya ia lalui. Sedangkan gejala penyimpangan perilaku pada anak yang berasal dari lingkungan sekitar menurut antara lain pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak, pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah, lingkungan rumah kurang memberikan model perilaku untuk ditiru, kurang motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.
3.Jenis-jenis penyimpangan tingkah laku siswa dalam belajar mengajar
a.Rasionalisasi
Rasionalisasi dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut “memberikan alasan”. Memberikan alasan yang dimaksud adalah memberikan penjelasan atas perilaku yang dilakukan oleh individu dan penjelasan tersebut biasanya cukup logis dan rasional tetapi pada dasarnya apa yang dijelaskan itu bukan merupakan penyebab nyata karena dengan penjelasan tersebut sebenarnya individu bermaksud menyembunyikan latar belakang perilakunya .
b.Sifat Bermusuhan
Sikap individu yang menganggap individu lain sebagai musuh/saingan. Sikap bermusuhan ini tampak dalam perilaku agresif, menyerang, mengganggu, bersaing dan mengancam lingkungan.
c.Menghukum diri sendiri
Perilaku menghukum diri sendiri terjadi karena individu merasa cemas bahwa orang lain tidak akan menyukai dia sekiranya dia mengkritik orang lain. Orang seperti ini memiliki kebutuhan untuk diakui dan disukai amat kuat.
d.Refresi/penekanan
Refresi ditunjukkan dalam bentuk menyembunyikan dan menekan penyebab yang sebenarnya ke luar batas kesadaran. Individu berupaya melupakan hal-hal yang menimbulkan penderitaan hidupnya.
e.Konformitas
Perilaku ini ditunjukkan dalam bentuk menyelamatkan diri dari perasaan tertekan atau bersalah terhadap pemenuhan harapan orang lain. Tujuan anak melakukan hal ini agar ia terhindar dari perasaan cemas.
f.Sinis
Perilaku ini muncul dari ketidakberdayaan individu untuk berbuat atau berbicara dalam kelompok. Ketidakberdayaan ini membuat dirinya khawatir dan cenderung menghindar dari penilaian orang lain. Semua perilaku mekanisme pertahanan diri di atas mempunyai karakteristik. Karakteristik tersebut antara lain:
1)menolak, memalsukan, atau mengacaukan kenyataan.
2)dilakukan tanpa menyadari latar belakang perilaku tersebut. Pola perilaku pertahanan diri ini cenderung kepada pengurangan kecemasan dan bukan pemecahan masalah yang menjadi dasar penyebab kecemasan itu.
B.Pendekatan dalam memecahkan problem di kelas
BAB III
HASIL OBSERVASI
Observasi dilakukan di MI Miftahul Ulum Braja Selebah, Lampung Timur. Ketika penyusun datang ke sekolah tersebut sedang diadakan Try Out bagi kelas VI dan proses belajar mengajar tidak dilangsungkan di kelas melainkan diliburkan. Namun saya dapat menemui wali kelas 4, yaitu Ibu Fatim, dan menanyakan problem-problem apasajakah yang terjadi di kelas beliau. Beliau menjelaskan bahwa di kelas tersebut terdapat 45 siswa siswi, 20 siswa laki-laki dan 25 siswi perempuan. Dengan jumlah siswa yang banyak dikelas tersebut, guru sedikit kesulitan awalnya, namun seiring berjalannya waktu, guru merasa terbiasa. Di kelas tersebut terdapat beberapa anak yang memiliki keterbatasan sehingga kurang mampu untuk mengikuti pembelajaran sehingga tertinggal dengan teman-temannya. Disamping itu anak tersebut juga masih kesulitan dalam membaca sampai kelas 4 ini. Upaya-upaya telah dilakukan mulai dari pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh guru. Siswa tersebut merupakan pindahan dari MI dari desa lain, sehingga murid tersebut memang bukan murid yang dari kelas satu sudah belajar di MI Miftahul Ulum. Guru juga sudah melakukan perbincangan dengan orang tua murid tersebut, dan memang anak tersebut memiliki kekurangan dan susah dalam menerima materi yang diajarkan.
BAB IV
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dilihat dari penjabaran diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah. Banyak pendekatan yang bisa dilakukan oleh guru dalam memecahkan problem di kelas, antara lain : pendekatan individual, kelompok, edukatif, keagamaan, dan masih banyak lagi pendekatan yang bisa dipergunakan guru dalam mengatasi problem di kelas.
B.Saran
Melalui makalah ini semoga dapat memberikan kita pengetahuan baru untuk membantu bagaimana cara memahami kemudian memberikan solusi dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan masalah yang datang pada peserta didik. Sebagai calon guru, kita harus mengerti karakter siswa yang kita didik. Jadi ketika peerta didik kita mengalami masalah dalam belajar, kita dapat mengetahui langkah apa yang akan kita ambil, pendekatan apa yang akan kita pakai untuk mengatasi problem tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1.M.Dalyono.2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
2.Aunurrahman.2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung Al-fabeta.
3.Akla.2004.Strategi Belajar Mengajar.Metro: STAIN JUSI Metro.
4.Hurlock, Elizabeth. B. 2004. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
5.Darwis, Abu. 2006. Perilaku Menyimpang Murid SD. Jakarta.
6.Bahri Djamarah, Saiful. 2010. Strategi belajar mengajar. Jakarta : Rineka cipta.
Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan
Remaja di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSUPN
dr. Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta
Tjhin Wiguna,* Paul Samuel Kris Manengkei,** Christa Pamela,**
Agung Muhammad Rheza,**Windy Atika Hapsari**
* Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Departemen Psikiatri FKUI/RSUPN-CM
**Mahasiswa S1, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Latar belakang. Anak dengan masalah emosi dan perilaku mempunyai kerentanan untuk mengalami
hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, terutama dalam fungsi belajar dan sosialisasi. Masalah tersebut
seringkali sulit dikenali oleh orangtua sehingga anak dengan masalah ini datang berobat dalam kondisi
yang cukup berat.
Tujuan. Untuk mengetahui persepsi orangtua terhadap perubahan emosi dan perilaku pada anak mereka
pada saat berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSCM Jakarta selama periode November
2009–Mei 2010.
Metode. Penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari catatan medik anak dan remaja di
Poliklinik Anak dan Remaja RSCM, selama periode November 2009 – Mei 2010. Kriteria inklusi adalah,
catatan medik lengkap mengenai data anak beserta orangtuanya, dan kuesioner Strength and Difficulties
Questionaire (SDQ) diisi dengan lengkap.
Hasil. Selama periode enam bulan didapatkan 161 subjek penelitian yang memenuhi kriteria yang sudah
ditentukan. Enam puluh lima koma sembilan puluh persen dari seluruh subjek penelitian berada pada usia
kurang dari 12 tahun dan mempunyai tingkat pendidikan setara dengan sekolah dasar. Proporsi terbesar
adalah masalah hubungan dengan teman sebaya 54,81%, dan masalah emosional 42,2%.
Kesimpulan. Masalah teman sebaya dan emosi merupakan masalah yang terbesar yang dijumpai pada pasien
anak dan remaja yang datang berobat ke Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSCM. Perlu dipertimbangkan
untuk menerapkan suatu program keterampilan sosial di masyarakat atau sekolah sehingga diharapkan
dapat menurunkan masalah ini di kemudian hari. Sari Pediatri 2010;12(4):270-7.
Kata kunci: emosi, perilaku, anak, SDQ.
Alamat korespondensi:
Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K), Staf Pengajar Divisi Psikiatri Anak dan
Remaja, Departemen Psikiatri FKUI/RSCM, Jalan Kimia 2/35, Jakarta
10430. Telepon/Fax 021310741, 02139899128
271
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
hendaya dan menurunkan produktivitas serta kualitas
hidup mereka. Satu setengah juta anak dan remaja
di Amerika Serikat dilaporkan oleh orangtuanya,
memiliki masalah emosional, perkembangan, dan
perilaku yang persisten. Sebagai contoh, 41% orang
tua di Amerika Serikat khawatir anaknya mengalami
kesulitan belajar dan 36% khawatir akan mengalami
gangguan depresi atau ansietas.1
Di Singapura, 12,5% anak usia 6–12 tahun
memiliki masalah emosi dan perilaku.2 Salah satu
faktor yang dikaitkan dengan timbulnya masalah ini
adalah kehidupan di kota besar yang penuh dengan
tuntutan dan tekanan bagi perkembangan dan
pertumbuhan anak dan remaja, sedangkan faktor usia
anak, jenis kelamin, dan perkerjaan orangtua hampir
dikatakan tidak berpengaruh terhadap timbulnya
masalah tersebut.3
Berbagai stresor psikososial seringkali dikaitkan
dengan terjadinya masalah emosi dan perilaku pada
anak dan remaja, seperti adanya penyakit fisik, pola
asuh yang inadekuat, kekerasan dalam rumah tangga,
hubungan dengan teman sebaya yang inadekuat, serta
kemiskinan. Stresor psikososial tersebut mempengaruhi
proses perkembangan kognitif anak sehingga anak
lebih memandang negatif lingkungan sekitar dan juga
persepsi yang negatif mengenai dirinya. Disamping itu,
stresor psikososial juga berkaitan dengan peningkatan
emosi negatif, perilaku disruptif dan impulsif, serta
menimbulkan cara-cara interaksi yang negatif sehingga
berdampak pada hubungan dengan teman sebaya yang
tidak optimal.4,5
Masalah emosi dan perilaku yang terjadi berdampak
terhadap tumbuh kembang dan kehidupan
sehari-hari anak. Gangguan perkembangan kognitif,
kesulitan dalam belajar karena mereka tidak mampu
berkonsentrasi terhadap pelajaran, kemampuan
mengingat yang buruk, atau bertingkah yang tidak
sesuai di dalam lingkungan sekolah, akan meningkatkan
angka kenakalan dan kriminalitas di masa
dewasa.4
Anak dengan masalah emosi dan perilaku seringkali
mengalami perlakukan yang tidak sesuai dari
lingkungannya yang dapat berupa stigma negatif.
Guru merasa sulit mengajari mereka, melihat
mereka sebagai anak-anak bodoh, sehingga jarang
memberikan masukan yang positif. Teman sebaya
menjauhi mereka, sehingga kesempatan untuk belajar
bersosialisasi menjadi berkurang. Orangtua lebih
banyak memberikan kritik negatif sehingga tidak
jarang interaksi antara orangtua dan anak menjadi
terputus5,6
Melihat sedemikian luasnya faktor risiko dan
dampak yang mungkin terjadi maka sudah sewajarnya
orangtua atau guru harus lebih menyadari kondisi ini
dengan melakukan deteksi dini sehingga masalah emosi
dan perilaku pada anak dan remaja dapat ditangani
sedini mungkin untuk menghindari terjadinya
gangguan jiwa di kemudian hari. Dengan demikian,
orangtua merupakan salah satu kunci penting dalam
mendeteksi masalah emosi dan perilaku dan juga
merupakan kunci keberhasilan tatalaksana yang akan
diberikan pada anak mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data
yang berkaitan dengan persepsi orangtua terhadap
perubahan emosi dan perilaku anak mereka pada saat
berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja
RSCM, Jakarta selama periode November 2009 – Mei
2010 sehingga dapat memberikan gambaran seberapa
jauh orangtua dapat mendeteksi masalah emosi dan
perilaku pada anak mereka.
Metode
Telah dilakukan penelitian deskriptif dengan rancangan
potong lintang. Data sekunder di peroleh dari catatan
medik anak dan remaja yang berobat di Poliklinik Anak
dan Remaja RSCM selama periode November 2009 –
Mei 2010. Maka subjek penelitian adalah seluruh anak
dan remaja yang datang berobat di Poliklinik Anak
dan Remaja RSCM dalam periode penelitian yang
memenuhi kriteria inklusi yaitu catatan medik lengkap,
berisi data anak beserta orangtuanya dan mengisi alat
skrining SDQ dengan lengkap.
Skrining SDQ merupakan suatu alat yang
dikembangkan oleh Robert Goodman pada tahun
1997, alat skrining tersebut sudah diterjemahkan
ke dalam berbagai bahasa di dunia termasuk dalam
Bahasa Indonesia. Skrining SDQ terdiri dari 25 buah
pernyataan yang dapat dikelompokkan menjadi lima
domain yaitu, (1) gejala emosional (5 pernyataan),
(2) masalah conduct (5 pernyataan), (3) hiperaktivitas
(5 pernyataan), (4) masalah hubungan dengan teman
sebaya (5 pernyataan), dan (5) perilaku prososial (5
pernyataan). Setiap pernyataan dijawab oleh orangtua
atau remaja dengan tidak pernah (skor 0), kadang benar
(skor 1), dan selalu benar (skor 2).7
Hasil akhir penelitian menitikberatkan masalah
272
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
distribusi frekuensi. Hasil akhir disajikan dalam bentuk
tabular dan tekstular.
Hasil
Selama periode enam bulan didapatkan 161 subjek
penelitian yang memenuhi kriteria yang sudah
ditentukan. Enam puluh lima koma sembilan puluh
persen dari seluruh subjek penelitian berada pada
usia kurang dari 12 tahun dan mempunyai tingkat
pendidikan setara dengan sekolah dasar. Proporsi
subjek penelitian dengan jenis kelamin laki-laki lebih
banyak daripada perempuan (Tabel 1).
Proporsi terbesar usia ayah subjek di atas 40
tahun (60,9%) dan usia ibu di bawah 40 tahun
(53,4%). Proporsi tingkat pendidikan tertinggi ayah
dan ibu adalah SMA (44,1% dan 41,6%). Umumnya
orangtua subjek penelitian berasal dari kelompok sosial
ekonomi menengah berdasarkan tingkat pendapatan
keluarga (76,4%) dan bekerja sebagai pegawai swasta
(49,1%).
Proporsi terbesar adalah masalah hubungan dengan
teman sebaya 54,81%, dan masalah emosional 42,2%
(Tabel 2). Anak yang berusia kurang dari 12 tahun
lebih banyak mengalami masalah hubungan dengan
teman sebaya (39,1%), sedangkan remaja lebih banyak
mengalami masalah emosi (33,5%) (Gambar 1). Anak
emosi dan perilaku anak dan remaja, yaitu dengan
menganalisis domain masalah emosi, masalah conduct,
hiperaktivitas, dan masalah hubungan dengan teman
sebaya, tanpa menganalisis skala prososial.
Sebelum analisis data dilakukan, pertama-tama
dilakukan pembersihan data. Penilaian SDQ dilakukan
dengan menjumlahkan angka-angka yang merupakan
jawaban dari pertanyaan dalam alat skrining SDQ.
Data yang terkumpul dimasukan ke dalam tabel,
dilakukan pengolahan dengan menghitung skor
yang tertinggi dan skor terendah untuk menentukan
Tabel 1. Sebaran subjek penelitian berdasarkan karakteristik
demografis (n=161)
Karakteristik Jumlah Persentase
Gambar 1. Proporsi masalah emosi dan perilaku berdasarkan
kelompok usia dan domain masalah (n=155)
Tabel 2. Sebaran karakteristik masalah emosi dan perilaku subjek penelitian berdasarkan SDQ (n=161)
Masalah emosi dan perilaku Normal (%) Borderline (%) Abnormal (%)
Masalah emosi
Masalah conduct
Hiperaktivitas
Masalah hubungan dengan teman sebaya
75 (46,6)
70 (43,5)
75 (45,1)
60 (36,1)
18 (11,2)
29 (18,0)
28 (16,8)
15 (9,1)
68 (42,2)
62 (38,5)
57 (38,1)
86 (54,8)
273
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
lelaki lebih banyak mengalami masalah hubungan
dengan teman sebaya, sedangkan anak perempuan
lebih banyak mengalami masalah emosi dan juga
masalah hubungan dengan teman sebaya (20,5%)
(Gambar 2).
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan beberapa data
yang menarik untuk didiskusikan. Orangtua lebih
banyak mengeluhkan masalah hubungan dengan
teman sebaya (54,8%) sebagai masalah utama anak
mereka yang berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak
dan Remaja RSCM Jakarta. Permasalahan ini terutama
dijumpai pada anak lelaki yang masih berusia di bawah
12 tahun.
Orangtua mempunyai persepsi bahwa masalah
hubungan dengan teman sebaya merupakan masalah
yang cukup serius, terutama anak yang memasuki usia
remaja. Teman sebaya bagi anak yang berusia 9–13
tahun, paling besar pengaruhnya terhadap kehidupan
mereka sehari-hari disamping orangtua.6 Dengan
adanya masalah hubungan dengan teman sebaya ini
tentunya berdampak dalam fungsi keseharian anak
dan remaja sehingga membuat orangtua menjadi
lebih waspada dan membawa mereka untuk datang
berkonsultasi oleh karena adanya hendaya dalam
interaksi sehari-hari.
Masalah emosi merupakan masalah kedua dengan
proporsi cukup besar (42,2%) yang dikemukakan
oleh orangtua. Masalah emosi dalam SDQ mencakup
masalah depresi dan juga cemas. Garland (2001)8
melaporkan bahwa 33,6% anak yang datang ke pusat
pelayanan kesehatan jiwa dengan masalah emosi.
Angka yang didapatkan dalam penelitian kami
sedikit lebih tinggi daripada angka yang didapatkan
oleh penelitian yang dilakukan oleh Garland.
Anak perempuan di bawah usia 12 tahun ternyata
mengalami masalah emosi yang lebih banyak pada
penelitian kami, kondisi ini sesuai dengan penelitian
yang telah dilakukan di berbagai negara.9 Masalah
emosi yang dinilai termasuk gejala depresi dan cemas,
karena dalam periode usia ini anak mengalami krisis
perkembangan. Anak mengalami perubahan hormonal
dan juga perubahan sikap lingkungan sehingga lebih
memicu terjadinya masalah emosi bagi anak dengan
kerentanan tertentu.
Masalah conduct juga merupakan masalah perilaku
yang dijumpai pada anak dan remaja dengan proporsi
yang cukup besar terutama pada kelompok remaja.
Namun dijumpai proporsi yang lebih tinggi pada
anak di bawah usia 12 tahun, dan hasil ini berbeda
dengan berbagai hasil yang ditemukan dalam penelitian
di luar negeri.1,3,10 Beberapa hal yang mungkin
berkaitan dengan kondisi tersebut adalah RSUPNCM
merupakan rumah sakit rujukan yang sudah lama
memberikan pelayanan kesehatan jiwa sehingga lebih
banyak anak dengan masalah conduct berkonsultasi;
orangtua sudah lebih waspada dengan berbagai masalah
conduct sehingga mereka mencari pertolongan yang
lebih dini sebelum anak memasuki usia remaja; adanya
penggeseran perkembangan masa remaja ke usia yang
lebih awal sehingga masalah sudah tampak di periode
remaja awal.
Terdapat beberapa hal yang menjadi hipotesis
sehubungan dengan didapatkannya berbagai data
yaitu, 1) adanya tantangan hidup termasuk tantangan
di sekolah yang bertambah besar sehingga anak dan
remaja lebih banyak menginternalisasikan (dalam
bentuk masalah emosi) dan mengkesternalisasikan
(dalam bentuk masalah conduct dan hubungan
dengan sebaya) berbagai konflik yang ada dalam diri
mereka; 2) isu globalisasi sehingga arus informasi yang
datang begitu banyak dan anak dan remaja belum
menghadapinya dengan baik; dan 3) berbagai krisis
di kota besar yang berdampak dalam perkembangan
emosi anak dan remaja. Tentunya semua kondisi
tersebut masih perlu dilakukan pengkajian lebih
lanjut.
Gambar 2. Proporsi masalah emosi dan perilaku berdasarkan
jenis kelamin dan domain masalah (n=161)
274
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
Penelitian kami tidak mencari berbagai faktor yang
berkaitan dengan terjadinya masalah emosi dan perilaku.
Disamping itu SDQ merupakan suatu alat skrining
yang diisi oleh orangtua maupun remaja sehingga dapat
terjadi bias pengisian yang tentunya sangat berpengaruh
terhadap hasil penelitian. Untuk itu disarankan agar
melakukan penelitian yang juga memasukan berbagai
faktor risiko yang mungkin berkaitan dengan terjadinya
masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di
kemudian hari sehingga wawasan kita mengenai kondisi
ini bertambah banyak.
Daftar pustaka
1. Blanchard LT, Gurka MJ, Blackman JA. Emotional,
developmental, and behavioral health of American
children and teir families: A report from the 2003 national
survey of children’s health. Pediatrics.2006;117:1202-
12.
2. Woo BSC, Ng TP, Fung DSS, Chan YH, Lee YP, Koh
JBK, dkk. Emotional and behavioral problems in
Singaporean children based on parent, teacher, and child
reports. Singopre Med J. 2007;48:1100-6.
3. Erol N, Simsek Z, Oner O, Munir K. Behavioral and
emotional problemsamong Turkish children at ages
2 to 3 years. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry
2005;44:80-5.
4. Gimpel GA. Holland ML. Emotional and behavioral
problmes in young children: effective interventions in the
preschool and kindergarten years. New York: Guilford;
2003.h.112-3.
5. Gelder MG, Lopez Ibor JJ, Andreasen N. New oxford
textbook of psychiatry. Oxford University Press; 2003.
h.123-5
6. Collett, B. R., Gimpel, G. A., Greenson, J. N., &
Gunderson, T. L. Assessment of discipline styles among
parents of preschool through school-age children. J
Psychopathol and Behavior Assess 2001;23:163-170.
7. Goodman R. The stregth and difficulties questionaire:
A research note. J Child Psychol Psychiatry.
1997;38:581-6
8. Garland AF, dkk. Prevalence of psychiatric disorders in
youth across five sectors of care. J Am Acad Child Adolesc
Psy 2001;40:409-18.
9. Verhulst FC. Epidemiology as a basis for conception and
planning for services. Dalam: Remschmidt H, Belfer
ML, Goodyer I, penyunting. Facilitating pathways care,
treatment and prevention in child and adolescent mental
health. Germany: Springer; 2004. h.3-15.
10. Fox L, Dunlap G, Powell D. Young children with
challenging behavior: Issues and consideration for
behaviora problem support. Journal of Positive Behavior
Intervention. 2002:4:208-17
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Taylor menyatakan, salah satu aspek kebudayaan adalah norma atau perilaku terpilih yang dianut sebagian besar masyarakat. Copy paste dipilih dan dianut oleh sebagian besar mahasiswa, sehingga lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan membudaya. Budaya copy paste dilatarbelakangi oleh kemalasan belajar dan belajar malas di kalangan mahasiswa. Akibatnya, tergeruslah jati diri mahasiswa. Mereka tak lagi percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual di masyarakat memiliki tiga peran utama. Pertama, sebagai pentransfer ilmu, teknologi, dan nilai. Mahasiswa memiliki peran untuk menyebarkan ilmu, turut serta dalam memberantas kebodohan. Sebagai pengguna terdekat teknologi, mahasiswa berperan menggunakan dan menciptakan teknologi yang tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sebagai pentransfer nilai, diharapkan mahasiswa menjadi tuntunan moral intelektual bagi masyarakat.
Kedua, mahasiswa sebagai agent of change, agen perubahan, turut serta dalam proses pembangunan dan pergerakan. Dalam pembangunan masyarakat dan bangsa, mahasiswa merupakan sumber daya manusia yang potensial karena terdidik dan terpelajar.
Dalam pergerakan, mahasiswa diharapkan mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa. Ketiga, mahasiswa sebagai kaum intelektual semestinya mampu mempertanggungjawabkan intelektualitasnya pada diri sendiri dan masyarakat.
Budaya copy paste membuat ruang kritis mahasiswa menyempit. Itu terlihat dari makin minim budaya membaca, budaya diskusi, dan budaya beprestasi. Padahal, budaya-budaya itu merupakan penumbuh budaya intelektual. Jika budaya-budaya itu tergusur oleh budaya copy paste, tergusurlah ranah intelektualitas yang seharusnya dimiliki kalangan mahasiswa.
Sebenarnya copy paste boleh-boleh saja, asal tidak meninggalkan unsur kekritisan. Karena kekritisan akan memunculkan budaya baru, yaitu budaya kreatif dan produktif. Tanpa kekritisan akan mengakibatkan kematian dalam berpikir. Kematian berpikir tentu mengakibatkan kematian bertindak.
1.2 Tujuan
• Menumbuhkan budaya intelektual
• Menumbuhkan rasa percaya diri,kemampuan berpikir dan potensi belajar
• menghadapi rasa malas dalam belajar dikalangan mahasiswa.
• Menumbuhkan budaya kreatif dan produktif
1.3Sasaran
• Menyelesaikan masalah-masalah tentang Perilaku malas.
• Meningkatkan kreatifitas mahasiswa
• Menumbuhkan pergerakan mahasiswa mengurangi rasa malas
• Terwujudnya kepribadian yang baik
BAB II PERMASALAHAN
Analisis permasalahan Perilaku Malas Cenderung Membudaya Dikalangan Mahasiswa dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi lingkungan internal maupun eksternal dilihat dari aspek :
1. Kekuatan (Strength)
a) Mahasiswa memiliki peran untuk menyebarkan ilmu
b) turut serta dalam memberantas kebodohan.
c) mahasiswa menjadi tuntunan moral intelektual bagi masyarakat.
d) turut serta dalam proses pembangunan dan pergerakan.
2. Kelemahan (Weakness)
a) Terjebak dalam kebiasaan buruk yaitu rasa malas pada mahasiswa
b) Budaya copy paste dilatarbelakangi oleh kemalasan belajar dan belajar malas di kalangan mahasiswa.
c) Tak lagi percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir akibat dari rasa malas pada mahasiswa.
d) Budaya copy paste membuat ruang kritis mahasiswa menyempit.
3. Peluang (Opportunity)
a) Mahasiswa berperan menggunakan dan menciptakan teknologi yang tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
b) merupakan sumber daya manusia yang potensial karena terdidik dan terpelajar.
c) mahasiswa mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa.
d) Mahasiwa sebagai generasi penerus bangsa yang kreatif,produktif,dan
berprestasi dalam cerminan bangsa dan dunia.
4. Tantangan/Hambatan (Threats)
a) Kurangnya sumber daya manusia yang potensial.
b) Kurangnya fasilitas sarana dan prasarana.
c) Terbatasnya nilai ekonomi pada masyarakat sehingga banyak mahasiswa yang putus kuliah.
d) kurangnya percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir yang menghambat pada mahasiswa.
BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1. Kesimpulan
Kesimpulan yang di ambil dari makalah yang saya buat adalah membahas tentang SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dari Perilaku Malas Cenderung Membudaya Dikalangan Mahasiswa yang menyebabkan kemalasan belajar dan belajar malas di kalangan mahasiswa, Mereka tak lagi percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir. Oleh,karena itu mahasiwa harus dapat berubah menjadi lebih baik,berprestasi,kreatif,dan produktif. karena mahasiswa memiliki peran untuk menyebarkan ilmu, turut serta dalam memberantas kebodohan,dan mahasiswa mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa.
2. Rekomendasi
a) Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat karena itu mahasiswa menjadi tuntunan moral intelektual bagi masyarakat.
b) Mahasiswa harus membiasakan sifat rajin belajar dan mengelola waktu dengan baik agar tidakTerjebak dalam kebiasaan buruk yaitu rasa malas pada mahasiswa
c) Mahasiswa harus diberikan dukungan dalam prestasi karena Mahasiwa sebagai generasi penerus bangsa yang kreatif,produktif, dan berprestasi dalam cerminan bangsa dan dunia.
d) Pemerintah seharusnya membantu mahasiswa yang kurang mampu seperti memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi untuk meningkatkan semangat belajar para mahasiswa dan mengurangi sumber daya manusia yang rendah.
3. Referensi
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/02/12/136770/Budaya-Copy-Paste-Mahasiswa
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya pendidikan berperan untuk meningkatkan kualitas
manusia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berbudi pekerti yang luhur, mandiri, maju, kreatif, trampil, bertanggung
jawab, produktif serta sehat jasmani dan rohani, sehingga mampu menghadapi
segala perubahan era globalisasi yang menuntut kesiapan sumber daya manusia
bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga harus mampu sebagai pelaku.
Konsekuensi dari masuknya budaya asing, pelaku bisnis, politik, ekonomi, dan
sebagainya, bahkan nilai-nilai budaya asing, seperti perilaku free sex,
pergaulan bebas tanpa batas dan bertolak belakang dengan budaya bangsa
Indonesia, yang mampu menggeser budaya bangsa Indonesia. Untuk itu, yang
mampu menghadapi masalah dan perubahan zaman adalah pemahaman budaya
masyarakat perlu ditanamkan pada siswa sehingga mampu memilah dan
memilih yang terbaik untuk menentukan sikap perilaku yang terbaik bagi diri
sendiri dan bangsa Indonesia.
Kegiatan interaksi belajar mengajar harus selalu ditingkatkan efektifitas
dan efisiensinya. Dengan banyakya kegiatan pendidikan di sekolah, dalam
usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pembelajaran, maka sangat
menyita waktu siswa untuk mengatasi keadaan tersebut, guru perlu
memberikan tugas-tugas di luar jam pelajaran. Disebabkan bila hanya
menggunakan seluruh jam pelajaran. Disebabkan bila hanya menggunakan
2
2
seluruh jam pembelajaran yang ada untuk tiap mata pelajaran hal itu tidak akan
mencukupi tuntutan di dalam kurikulum. Dengan demikian perlu diberikan
tugas-tugas, sebagai selingan untuk variasi teknik penyajian ataupun dapat
berupa pekerjaan rumah. Tugas semacam itu dapat dikerjakan di luar jam
pelajaran, di rumah maupun sebelum pulang, dan atau kegiatan ekstrakurikuler,
sehingga dapat dikerjakan bersama temannya.
Seperti yang berlangsung pada kegiatan ekstrakurikuler yang berupa
seni budaya yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, menanamkan
kesadaran, dan membina mental siswa serta menumbuhkembangkan sikap
perilaku siswa agar sanggup menerima, memahami, dan mengerti tentang
kebudayaan, baik budaya tradisional, budaya masyarakat maupun budaya asing
yang bersifat selektif.
Apakah budaya? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang telah ditanyakan
dan dicari jawabnya sejak era Ibnu Khaldun sampai saat ini. Seolah-olah
jawaban atas pertanyaan itu tidak pernah ada, atau mungkin ketika ditemukan
jawabannya oleh seseorang, maka yang didefinisikan itu (budaya) lantas
berubah. Oleh karenanya orang tak pernah sampai pada keputusan final yang
disepakati oleh semua orang. Apalagi budaya dilihat dari kacamata berlainan
tergantung yang melihatnya. Alhasil konsep budaya berbeda-beda tergantung
siapa yang mendefinisikan konsep tersebut. Dalam buku-buku pengantar
antropologi selalu disebutkan hasil temuan Kroeber & Kluckhon yang
mengidentifikasi definisi budaya. Mereka mencatat sekurang-kurangnya
terdapat 169 definisi berbeda. Hal itu menunjukkan betapa beragamnya sudut
pandang yang digunakan untuk melihat budaya. Masing-masing disiplin ilmu
3
3
memiliki sudut pandangnya sendiri. Bahkan di dalam satu disiplin ilmu
terdapat perbedaan karena pendekatan yang digunakan berbeda. Dalam disiplin
ilmu psikologi misalnya, mungkin saja mereka yang tertarik dengan persoalan
emosi akan mendefinisikan berbeda dengan mereka yang tertarik pada
persoalan kesehatan mental (Mendatu, 2007. “Apakah Budaya”.
www.psikologi.omline.co.id.)
Kemampuan beradaptasi atau penyesuaian diri merupakan bentuk
perilaku pada umumnya yang didasarkan atas keseimbangan kemampuan akal
(kognisi) dan kemampuan rasa (afeksi), dan psikomotor, karena manusia tidak
hanya memiliki otak tetapi juga mempunyai emosi dan keterampilan, baik
keterampilan berkomunikasi maupun keterampilan fisik jasmaniah. Oleh
karena itu, kesadaran terhadap perbedaan daya pikir, emosi, dan keterampilan
manusia merupakan aspek penting keberhasilan penyesuaian diri. Mengingat
manusia tidak hanya berperilaku atas dasar kemampuan akal semata, tetapi
juga didasarkan pada kemampuan rasa, yakni kemampuan menilai perasaan
kepuasan diri sendiri dan orang lain dalam masa perkembangan yang timbul
dalam kehidupan sehari-hari.
Keseimbangan antara komponen kognisi, afeksi, dan psikomotor
mutlak diperlukan. Seseorang yang terlalu mengagungkan kecerdasan akalnya
tanpa diimbangi dengan kemampuan emosional atau sikap, dan psikomotor
diprediksikan bahwa dia akan dapat mengalami kegagalan dalam bersosialisasi
dengan lingkungannya. Kecakapan emosi bukan berarti memanjakan perasaan
dan mengistimewakan sikap, dalam arti memuaskan dirinya sendiri tanpa
memperhatikan orang lain, tetapi mengelola perasaan, sikap, dan keterampilan
4
4
sedemikian rupa sehingga terekspresikan secara tepat dan efektif, yang
memungkinkan orang bekerja sama dengan lancar menuju sasaran bersama.
B. Identifikasi Masalah
Kemampuan beradaptasi atau penyesuaian diri merupakan bentuk
perilaku pada umumnya yang didasarkan atas keseimbangan kemampuan akal
(kognisi) dan kemampuan rasa (afeksi), dan psikomotor, karena manusia tidak
hanya memiliki otak tetapi juga mempunyai emosi dan keterampilan, baik
keterampilan berkomunikasi maupun keterampilan fisik jasmaniah.
Perbedaan daya pikir, emosi, dan keterampilan manusia merupakan
aspek penting keberhasilan penyesuaian diri. Mengingat manusia tidak hanya
berperilaku atas dasar kemampuan akal semata, tetapi juga didasarkan pada
kemampuan rasa, yakni kemampuan menilai perasaan kepuasan diri sendiri dan
orang lain dalam masa perkembangan yang timbul dalam kehidupan seharihari.
Keseimbangan antara komponen kognisi, afeksi, dan psikomotor mutlak
diperlukan.
Seseorang yang mengagungkan kecerdasan akalnya tanpa diimbangi
dengan kemampuan emosional/ sikap, dan psikomotor diprediksikan dia akan
dapat mengalami kegagalan dalam bersosialisasi dengan lingkungannya.
Kecakapan emosi bukan berarti memanjakan perasaan dan mengistimewakan
sikap, dalam arti memuaskan dirinya sendiri tanpa memperhatikan orang lain,
tetapi mengelola perasaan, sikap, dan keterampilan sedemikian rupa sehingga
secara tepat memungkinkan bekerja sama dengan lancar menuju sasaran
bersama.
5
5
Aktivitas bebajar siswa, baik yang berlangsung di sekolah maupun di
luar sekolah, rumah atau tempat lain, senantiasa perlu memperhatikan
kemampuan beradaptasinya, sehingga diperoleh hasil belajar yang optimal,
yaitu menguasai materi yang dipelajari dan mampu berprestasi dengan baik.
C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada masalah budaya masyarakat, pergaulan
teman sebaya, dan perilaku sosial siswa SMA Negeri 1 Karangnongko
Kabupaten Klaten.
D. Rumusan Masalah
1. Adakah kontribusi budaya masyarakat dan pergaulan teman sebaya
terhadap perilaku sosial siswa SMA Negeri 1 Karangnongko Kabupaten
Klaten?
2. Adakah kontribusi budaya masyarakat terhadap perilaku sosial siswa SMA
Negeri 1 Karangnongko Kabupaten Klaten?
3. Adakah kontribusi pergaulan teman sebaya terhadap perilaku sosial siswa
SMA Negeri 1 Karangnongko Kabupaten Klaten?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah ingin mendeskripsikan tentang
budaya masyarakat, pergaulan teman sebaya, dan perilaku sosial siswa.
Sedangkan tujuan khusus penelitian ini ingin mendeskripsikan tentang
kontribusi budaya masyarakat terhadap perilaku sosial siswa, kontribusi
6
6
pergaulan teman sebaya terhadap perilaku sosial siswa, dan kontribusi budaya
masyarakat dan pergaulan teman sebaya terhadap perilaku sosial siswa di
SMA Negeri 1 Karangnongko Klaten.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Dapat digunakan sebagai referensi dan penelitian berikutnya yang
sejenis.
2. Manfaat Praktis
Sedangkan manfaat praktis bagi siswa, memberikan informasi arti
pentingnya budaya masyarakat dan pergaulan teman sebaya terhadap
perilaku sosial siswa di SMA Negeri 1 Karangnongko Klaten, bagi
masyarakat, memberikan masukan bahwa budaya masyarakat dapat
membentuk perilaku sosial dan membangun nilai-nilai pergaulan teman
sebaya terhadap perilaku sosial siswa di SMA Negeri 1 Karangnongko
Klaten.
Psikologi memiliki peran dalam dunia pendidikan baik itu dalam belajar dan pembelajaran. Pengetahuan tentang psikologi sangat diperlukan oleh pihak guru atau instruktur sebagai pendidik, pengajar, pelatih, pembimbing, dan pengasuh dalam memahami karakteristik kognitif, afektif, dan psikomotorik peserta secara integral. Pemahaman psikologis peserta didik oleh pihak guru atau instruktur di institusi pendidikan memiliki kontribusi yang sangat berarti dalam membelajarkan peserta didik sesuai dengan sikap, minat, motivasi, aspirasi, dan kebutuhan peserta didik, sehingga proses pembelajaran di kelas dapat berlangsung secara optimal dan maksimal.
Pengetahuan tentang psikologi diperlukan oleh dunia pendidikan karena dunia pendidikan menghadapi peserta didik yang unik dilihat dari segi karakteristik perilaku, kepribadian, sikap, minat, motivasi, perhatian, persepsi, daya pikir, inteligensi, fantasi, dan berbagai aspek psikologis lainnya yang berbeda antara peserta didik yang satu dengan peserta didik yang lainnya. Perbedaan karakteristik psikologis yang dimiliki oleh para peserta didik harus diketahui dan dipahami oleh setiap guru atau instruktur yang berperan sebagai pendidik dan pengajar di kelas, jika ingin proses pembelajarannya berhasil
Beberapa peran penting psikologi dalam proses pembelajaran adalah :
1. Memahami siswa sebagai pelajar, meliputi perkembangannya, tabiat, kemampuan, kecerdasan, motivasi, minat, fisik, pengalaman, kepribadian, dan lain-lain
2. Memahami prinsip – prinsip dan teori pembelajaran
3. Memilih metode – metode pembelajaran dan pengajaran
4. Menetapkan tujuan pembelajaran dan pengajaran
5. Menciptakan situasi pembelajaran dan pengajaran yang kondusif
6. Memilih dan menetapkan isi pengajaran
7. Membantu peserta didik yang mengalami kesulitan belajar
8. Memilih alat bantu pembelajaran dan pengajaran
9. Menilai hasil pembelajaran dan pengajaran
10. Memahami dan mengembangkan kepribadian dan profesi guru
11. Membimbing perkembangan siswa
Menurut Abimanyu (1996) mengemukakan bahwa peranan psikologi dalam pendidikan dan pengajaran ialah bertujuan untuk memberikan orientasi mengenai laporan studi, menelusuri masalah-masalah di lapangan dengan pendekatan psikologi serta meneliti faktor-faktor manusia dalam proses pendidikan dan di dalam situasi proses belajar mengajar. Psikologi dalam pendidikan dan pengajaran banyak mempengaruhi perumusan tujuan pendidikan, perumusan kurikulum maupun prosedur dan metode-metode belajar mengajar. Psikologi ini memberikan jalan untuk mendapatkan pemecahan atas masalah-masalah sebagai berikut:
1. Perubahan yang terjadi pada anak didik selama dalam proses pendidikan
2. Pengaruh pembawaan dan lingkungan atas hasil belajar
3. Teori dan proses belajar
4. Hubungan antara teknik mengajar dan hasil belajar.
5. Perbandingan hasil pendidikan formal dengan pendidikan informal atas diri individu.
6. Pengaruh kondisi sosial anak didik atas pendidikan yang diterimanya.
7. Nilai sikap ilmiah atas pendidikan yang dimiliki oleh para petugas pendidikan.
8. Pengaruh interaksi antara guru dan murid dan antara murid dengan murid.
9. Hambatan, kesulitan, ketegangan, dan sebagainya yang dialami oleh anak didik selama proses pendidikan
10. Pengaruh perbedaan individu yang satu dengan individu yang lain dalam batas kemampuan belajar
** Bebas disunting dengan menyebutkan sumber **
http://www.zainalhakim.web.id/peran-psikologi-dalam-dunia-pendidikan.html
PENYIMPANGAN PERILAKU ANAK SEKOLAH DASAR
Oleh Kelompok 9
(Ardhi Tri utomo, Nur Wijayanto, dan Windra Jemi Rokhmad)
Setiap anak mengalami tahap-tahap perkembangan. Tahap-tahap perkembangan anak secara umum sama. Pada setiap tahap perkembangan, setiap anak dituntut dapat bertindak atau melaksanakan hal-hal (perilaku) yang menjadi tugas perkembangannya dengan baik.
Perilaku adalah segala sesuatu yang diperbuat oleh seseorang atau pengalaman. Kartono dalam Darwis (2006: 43) mengemukakan bahwa ada dua jenis perilaku manusia, yakni perilaku normal dan perilaku abnormal. Perilaku normal adalah perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya, sedangkan parilaku abnormal adalah perilaku yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada. Perilaku abnormal ini juga biasa disebut perilaku menyimpang atau perilaku bermasalah.
Apabila anak dapat melaksanakan tugas perilaku pada masa perkembangannya dengan baik, anak tersebut dikatakan berperilaku normal. Masalah muncul apabila anak berperilaku tidak sesuai dengan tugas perkembangannya. Anak yang berperilaku diluar perilaku normal disebut anak yang berperilaku menyimpang (child deviant behavior).
Perilaku anak menyimpang memiliki hubungan dengan peyesuaian anak tersebut dengan lingkungannya. Hurlock (2004: 39) mengatakan bahwa perilaku anak bermasalah atau menyimpang ini muncul karena penyesuaian yang harus dilakukan anak terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan yang baru. Berarti semakin besar tuntutan dan perubahan semakin besar pula masalah penyesuaian yang dihadapi anak tersebut.
Perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah (Darwis, 2006: 43). Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab anak yang bermasalah biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya.
Walaupun gejala perilaku bermasalah di sekolah itu mungkin hanya tampak pada sebagian anak, pada dasarnya setiap anak memiliki masalah-masalah emosional dan penyesuaian sosial. Masalah itu tidak selamanya menimbulkan perilaku bermasalah atau menyimpang yang kronis (darwis, 2006: 44).
Guru sering kali menanggapi perilaku anak yang bermasalah atau menyimpang dengan memberikan perlakuan secara langsung dan drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau pendekatan seperti ini sering kali tidak membawa hasil yang diharapkan karena perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada dibalik perilaku bermasalah (Darwis, 2006: 44). Sekalipun demikian pemahaman terhadap perilaku bermasalah bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan guru.
Bertolak dari paparan di atas, permasalahan dalam makalah ini dirumuskan sebagai berikut: apa saja gejala-gelaja penyimpangan perilaku anak SD dan apa saja jenis-jenis penyimpangan perilaku anak SD. Tujuan yang ingin dicapai adalah memaparkan atau mendeskripsikan gejala-gelaja penyimpangan dan jenis-jenis perilaku menyimpang anak SD.
PEMBAHASAN
Makalah ini membahas tentang gejala-gejala penyimpangan perilaku anak SD dan dan jenis-jenis penyimpangan perilaku pada anak SD. Penjelasan mengenai hal-hal tersebut adalah sebagai berikut.
Gejala-gejala penyimpangan perilaku pada anak SD
Gejala penyimpangan perilaku anak merupakan tanda-tanda munculnya perilaku menyimpang pada anak. Gejala-gejala penyimpangan perilaku anak merupakan perbuatan atau atau perilaku anak SD yang dapat menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami penyimpangan perilaku anak SD yang bersangkutan. Secara umum gejala ini berasal dari dalam diri anak dan dari lingkungan sekitar. Gejala penyimpangan perilaku dari dalam diri anak SD muncul akibat ketidakmampuan anak tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan di mana ia berada. Hal tersebut juga akan mengakibatkan anak berperilaku mundur ke perilaku yang sebelumnya ia lalui (Hurlock, 2004: 39). Sedangkan gejala penyimpangan perilaku pada anak yang berasal dari lingkungan sekitar menurut Hurlock (2004: 288) antara lain pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak, pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah, lingkungan rumah kurang memberikan model perilaku untuk ditiru, kurang motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.
Pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak bermakna bahwa para orang tua dan guru sering menganggap perilaku normal yang mengganggu ketenangan di rumah atau kelancaran sekolah sebagai perilaku bermasalah. Bila mereka beranggapan seperti itu si anak mungkin akan mengembangkan sikap yang tidak menyenangkan terhadap mereka dan terhadap situasi di mana perilaku itu terjadi (Hurlock, 2004: 39). Akibatnya ialah si anak mengembangkan perilaku yang merupakan masalah yang serius, misalnya berbohong, berbuat licik atau merusak sebagai cara membalas dendam.
Pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah merupakan hal yang menjadikan anak akan menemui kesulitan untuk melakukan penyesuaian sosial yang baik di luar rumah, meskipun dia diberikan motivasi kuat untuk melakukannya. Hurlock (2004: 288) memberikan contoh bahwa, anak yang diasuh dengan metode otoriter, misalnya, sering mengembangkan sikap benci terhadap semua figur berwenang. Contoh yang lain adalah pola asuh yang serba membolehkan di rumah, anak akan menjadi orang yang tidak mau memperhatikan keinginan orang lain, merasa dia dapat mengatur dirinya sendiri.
Kurangnya motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial merupakan hal yang sering timbul dari pengalaman sosial awal yang tidak menyenangkan baik di rumah atau di luar rumah (Hurlock, 2004: 288). Sebagai contoh, anak yang selalu digoda atau diganggu oleh saudaranya yang lebih tua, atau yang diperlakukan sebagai orang yang tidak dikehendaki dalam permainan mereka, tidak akan memiliki motivasi kuat untuk berusaha melakukan penyesuaian sosial yang baik di luar rumah.
Anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar. Hurlock (2004: 288) menyatakan bahwa meskipun anak memiliki motivasi yang kuat untuk belajar melakukan enyesuaian sosial yang baik, anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar itu. Sebagai contoh apabila orang tua yakin bahwa anaknya akan dapat “menguasai” agresivitasnya setelah bertambah dewasa dan mengalami hubungan sosial yang lebih banyak, anak itu tidak akan mengasosiasikan agresivitasnya dengan penolakan teman sebaya yang dialaminya dan, akibatnya dia tidak akan berusaha untuk mengurangi agresivitasnya.
Jenis-jenis atau bentuk-bentuk perilaku menyimpang pada anak SD
Salah satu tujuan memahami perilaku bermasalah ialah karena perilaku tersebut muncul untuk menghindar atau mempertahankan diri. Dalam psikologi perilaku ini disebut mekanisme pertahanan diri yang disebabkan oleh karena anak menghadapi kecemasan dan tidak mampu menghadapinya (Darwis, 2006: 43). Kecemasan pada dasarnya adalah ketegangan psikologis sebagai akibat dari ketidakpuasan dalam pemenuhan kebutuhan. Disebut mekanisme pertahanan diri, karena dengan perilaku tersebut individu dapat mempertahankan diri atau menghindar dari situasi yang menimbulkan ketegangan.
Bentuk-bentuk atau jenis-jenis perilaku menyimpang atau mekanisme pertahanan diri ini antara lain rasionalisasi, sifat bermusuhan, menghukum diri sendiri, refresi/penekanan, konformitas, dan sinis (Darwis, 2006 : 44). Adapun bentuk-bentuk atau jenis-jenis perilaku menyimpang anak SD dijelaskan pada paparan berikut ini.
Rasionalisasi
Rasionalisasi dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut “memberikan alasan”. Memberikan alasan yang dimaksud adalah memberikan penjelasan atas perilaku yang dilakukan oleh individu dan penjelasan tersebut biasanya cukup logis dan rasional tetapi pada dasarnya apa yang dijelaskan itu bukan merupakan penyebab nyata karena dengan penjelasan tersebut sebenarnya individu bermaksud menyembunyikan latar belakang perilakunya (Darwis, 2006: 44).
Sifat Bermusuhan
Sikap individu yang menganggap individu lain sebagai musuh/saingan. Menurut Darwis (2006: 45) sikap bermusuhan ini tampak dalam perilaku agresif, menyerang, mengganggu, bersaing dan mengancam lingkungan.
Menghukum diri sendiri
Perilaku menghukum diri sendiri terjadi karena individu merasa cemas bahwa orang lain tidak akan menyukai dia sekiranya dia mengkritik orang lain. Orang seperti ini memiliki kebutuhan untuk diakui dan disukai amat kuat (Kartadinata, 1999: 196).
Refresi/penekanan
Refresi ditunjukkan dalam bentuk menyembunyikan dan menekan penyebab yang sebenarnya ke luar batas kesadaran. Individu berupaya melupakan hal-hal yang menimbulkan penderitaan hidupnya.
Konformitas
Perilaku ini ditunjukkan dalam bentuk menyelamatkan diri dari perasaan tertekan atau bersalah terhadap pemenuhan harapan orang lain. Tujuan anak melakukan hal ini agar ia terhindar dari perasaan cemas.
Sinis
Perilaku ini muncul dari ketidak berdayaan individu untuk berbuat atau berbicara dalam kelompok. Ketidak berdayaan ini membuat dirinya khawatir dan cenderung menghindar dari penilaian orang lain.
Semua perilaku mekanisme pertahanan diri di atas mempunyai karakteristik (darwis, 2006: 45). Karakteristik tersebut antara lain: (a) menolak, memalsukan, atau mengacaukan kenyataan, (b) dilakukan tanpa menyadari latar belakang perilaku tersebut. Pola perilaku pertahanan diri ini cenderung kepada pengurangan kecemasan dan bukan pemecahan masalah yang menjadi dasar penyebab kecemasan itu.
KESIMPULAN
Gejala perilaku menyimpang pada anak SD dapat muncul dari dalam diri anak tersebut dan dari lingkungan sekitarnya. Gejala yang muncul dari dalam dirinya adalah perilaku anak yang mundur ke perilaku yang sebelumnya ia lalui. Sedangkan gejala yang muncul dari luar diri anak atau muncul dari lingkungan sekitar anak antara lain pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak, pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah, lingkungan rumah kurang memberikan model perilaku untuk ditiru, kurang motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.
Jenis-jenis atau bentuk-bentuk perilaku menyimpang anak SD merupakan mekanisme pertahanan diri anak tersebut yang disebabkan oleh karena anak menghadapi kecemasan dan tidak mampu menghadapinya. Adapun jenis-jenis penyimpangan perilaku anak SD antara lain rasionalisasi, sifat bermusuhan, menghukum diri sendiri, refresi/penekanan, konformitas, dan sinis.
DAFTAR RUJUKAN
Darwis, Abu. 2006. Perilaku Menyimpang Murid SD. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi Direktorat Ketenagaan
Hurlock, Elizabeth. B. 2004. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga
Kartadinata, Sunaryo. 1999. Bimbingan Di Sekolah Dasar. Bandung: Depdikbud Dirjen Dikti Proyek Pendidikan Guru Sekolah Dasar
Makalah Pendekatan dalam Memecahkan Problem di Kelas
Selasa, Mei 07, 2013 Materi Kuliah No comments
BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Dalam kegiatan belajar mengajar, anak adalah sebagai subjek dari kegiatan pengajaran. Tujuan pengajaran akan tercapai jika pesrta didik berusaha secara aktif untuk mencapainya. Keaktifan peserta didik tidak hanya dituntut dari segi fisik, tetapi juga dari segi kejiwaan. Bila hanya fisik yang aktif, tetapi fikiran dan mentalnya kurang aktif, maka kemungkinan besar tujuan pembelajaran tidak tercapai, karena peserta didik tidak merasakan perubahan dalam diri. Namun, selain peserta didik guru juga dituntut untuk memahami masalah-masalah yang ditemui peserta didik agar dapat mempermudah peserta didik untuk memahami bahkan mengamalkan ilmu yang didapat.
Guru professional berusaha mendorong siswa agar belajar secara berhasil. Ia menemukan bahwa ada bermacam hal yang menyebabkan siswa belajar.ada siswa yang tidak belajar karena dimarahi oleh orang tua. Ada siswa yang enggan belajar karena pindah tempat tinggal. Ada siswa yang sukar memusatkan perhatian waktu guru mengajarkan topic tertentu. Ada pula siswa yang giat belajar karena bercita-cita menjadi seorang ahli. Bermacam-macam keadaan siswa tersebut menggambarkan bahwa pengetahuan tentang masalah-masalah belajar merupakan hal yang sangat penting bagi guru atau calon guru. Dalam makalah ini kami membahas mengenai jenis penyimpangan tingkah laku dalam masalah individual yang mengganggu belajar mengajar. Kondisi belajar yang baik akan mempengaruhi proses dan hasil belajar yang baik, begitu pula sebaliknya.
B.Landasan Teori
Aktivitas belajar bagi individu, tidak selamanya dapat berlangsung secara wajar. Kadang-kadang lancar, kadang-kadang tidak, kadang-kadang terasa amat sulit. Dalam hal semangat terkadang semangatnya tinggi, tetapi terkadang juga sulit untuk mengadakan konsentrasi.
Demikian antara lain kenyataan yang sering kita jumpai pada setiap anak didik dalam kehidupan sehari-hari dalam kaitannya dengan aktivitas belajar. Setiap individu memang tidak ada yang sama. Perbedaan individu ini pulalah yang menyebabkan perbedaan tingkah laku belajar di kalangan anak didik. Dalam keadaan di mana anak didik / siswa tidak dapat belajar sebagaimana mestinya, itulah yang disebut kesulitan belajar.
Kesulitan belajar ini tidak selalu disebabkan karena faktor intelegensi yang rendah (kelainan mental), akan tetapi dapat juga disebabkan oleh faktor-faktor non intelegensi. Dengan demikian, IQ yang tinggi belum tentu menjamin keberhasilan belajar. Karena itu, dalam rangka memberikan bimbingan yang tepat kepada anak didik, maka para pendidik perlu memahami masalah-masalah yang berhubungan dengan kesulitan belajar. Didalam kelas terdapat banyak karakter siswa yang harus diketahui oleh seorang guru. Ketika peserta didik melakukan penyimpangan tingkah laku dalam proses belajar mengajar, maka seorang guru akan lebih mudah untuk menentukan langkah apa yang harus diambil atau dengan pendekatan apa yang diambil guru untuk memcahkan problem yang terjadi didalam kelas.
C.Rumusan Masalah
Dari latar belakang diatas dapat dirumuskan sebuah masalah yaitu sebagai berikut:
1.Apa yang dimaksud dengan belajar mengajar ?
2.Apa saja masalah yang ditemui dalam belajar mengajar ?
3.Apa yang dimaskud dengan prilaku menyimpang?
4.Jenis-jenis penyimpangan tingkah laku dalam belajar?
5.Gejala penyimpangan perilaku pada anak?
6.Apasaja pendekatan dalam belajar mengajar ?
D.Tujuan Masalah
Tujuan dari pembahasan makalah ini diharapkan:
1.Untuk mengetahuai apa yang dimaksud dengan belajar mengajar.
2.Untuk memahami apa saja masalah yang ditemui dalam belajar mengajar.
3.Untuk mengetahui apa itu prilaku menyimpang, jenis-jenis nya, gejala, dan pendekatan dalam belajar mengajar.
BAB II
PEMBAHASAN
A.Jenis Penyimpangan tingkah laku dalam belajar mengajar
1.Pengertian perilaku menyimpang
Perilaku adalah segala sesuatu yang diperbuat oleh seseorang atau pengalaman. Ada dua jenis perilaku manusia, yakni perilaku normal dan perilaku abnormal. Perilaku normal adalah perilaku yang dapat diterima oleh masyarakat pada umumnya, sedangkan parilaku abnormal adalah perilaku yang tidak bisa diterima oleh masyarakat pada umumnya, dan tidak sesuai dengan norma-norma sosial yang ada. Perilaku abnormal ini juga biasa disebut perilaku menyimpang atau perilaku bermasalah. Apabila anak dapat melaksanakan tugas perilaku pada masa perkembangannya dengan baik, anak tersebut dikatakan berperilaku normal.
Masalah muncul apabila anak berperilaku tidak sesuai dengan tugas perkembangannya. Anak yang berperilaku diluar perilaku normal disebut anak yang berperilaku menyimpang (child deviant behavior). Perilaku anak menyimpang memiliki hubungan dengan penyesuaian anak tersebut dengan lingkungannya. Perilaku anak bermasalah atau menyimpang ini muncul karena penyesuaian yang harus dilakukan anak terhadap tuntutan dan kondisi lingkungan yang baru. Berarti semakin besar tuntutan dan perubahan semakin besar pula masalah penyesuaian yang dihadapi anak tersebut.
Perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah.
Guru perlu memahami perilaku bermasalah ini sebab anak yang bermasalah biasanya tampak di dalam kelas dan bahkan dia menampakkan perilaku bermasalah itu di dalam keseluruhan interaksi dengan lingkungannya. Walaupun gejala perilaku bermasalah di sekolah itu mungkin hanya tampak pada sebagian anak, pada dasarnya setiap anak memiliki masalah-masalah emosional dan penyesuaian sosial. Masalah itu tidak selamanya menimbulkan perilaku bermasalah atau menyimpang yang kronis.
Guru sering kali menanggapi perilaku anak yang bermasalah atau menyimpang dengan memberikan perlakuan secara langsung dan drastis yang tidak jarang dinyatakan dalam bentuk hukuman fisik. Cara atau pendekatan seperti ini sering kali tidak membawa hasil yang diharapkan karena perlakuan tersebut tidak didasarkan kepada pemahaman apa yang ada dibalik perilaku bermasalah. Sekalipun demikian pemahaman terhadap perilaku bermasalah bukanlah sesuatu yang mustahil untuk dilakukan guru.
2.Gejala Penyimpangan Perilaku pada Anak
Gejala penyimpangan perilaku anak merupakan tanda-tanda munculnya perilaku menyimpang pada anak. Gejala-gejala penyimpangan perilaku anak merupakan perbuatan atau atau perilaku anak yang dapat menunjukkan bahwa anak tersebut mengalami penyimpangan perilaku yang bersangkutan. Secara umum gejala ini berasal dari dalam diri anak dan dari lingkungan sekitar.
Gejala penyimpangan perilaku dari dalam diri anak muncul akibat ketidakmampuan anak tersebut untuk menyesuaikan diri terhadap lingkungan di mana ia berada. Hal tersebut juga akan mengakibatkan anak berperilaku mundur ke perilaku yang sebelumnya ia lalui. Sedangkan gejala penyimpangan perilaku pada anak yang berasal dari lingkungan sekitar menurut antara lain pandangan orang tua dan guru terhadap perilaku anak, pola perilaku sosial yang buruk yang berkembang di rumah, lingkungan rumah kurang memberikan model perilaku untuk ditiru, kurang motivasi untuk belajar melakukan penyesuaian sosial, dan anak tidak mendapatkan bimbingan dan bantuan yang cukup dalam proses belajar.
3.Jenis-jenis penyimpangan tingkah laku siswa dalam belajar mengajar
a.Rasionalisasi
Rasionalisasi dalam kehidupan sehari-hari biasa disebut “memberikan alasan”. Memberikan alasan yang dimaksud adalah memberikan penjelasan atas perilaku yang dilakukan oleh individu dan penjelasan tersebut biasanya cukup logis dan rasional tetapi pada dasarnya apa yang dijelaskan itu bukan merupakan penyebab nyata karena dengan penjelasan tersebut sebenarnya individu bermaksud menyembunyikan latar belakang perilakunya .
b.Sifat Bermusuhan
Sikap individu yang menganggap individu lain sebagai musuh/saingan. Sikap bermusuhan ini tampak dalam perilaku agresif, menyerang, mengganggu, bersaing dan mengancam lingkungan.
c.Menghukum diri sendiri
Perilaku menghukum diri sendiri terjadi karena individu merasa cemas bahwa orang lain tidak akan menyukai dia sekiranya dia mengkritik orang lain. Orang seperti ini memiliki kebutuhan untuk diakui dan disukai amat kuat.
d.Refresi/penekanan
Refresi ditunjukkan dalam bentuk menyembunyikan dan menekan penyebab yang sebenarnya ke luar batas kesadaran. Individu berupaya melupakan hal-hal yang menimbulkan penderitaan hidupnya.
e.Konformitas
Perilaku ini ditunjukkan dalam bentuk menyelamatkan diri dari perasaan tertekan atau bersalah terhadap pemenuhan harapan orang lain. Tujuan anak melakukan hal ini agar ia terhindar dari perasaan cemas.
f.Sinis
Perilaku ini muncul dari ketidakberdayaan individu untuk berbuat atau berbicara dalam kelompok. Ketidakberdayaan ini membuat dirinya khawatir dan cenderung menghindar dari penilaian orang lain. Semua perilaku mekanisme pertahanan diri di atas mempunyai karakteristik. Karakteristik tersebut antara lain:
1)menolak, memalsukan, atau mengacaukan kenyataan.
2)dilakukan tanpa menyadari latar belakang perilaku tersebut. Pola perilaku pertahanan diri ini cenderung kepada pengurangan kecemasan dan bukan pemecahan masalah yang menjadi dasar penyebab kecemasan itu.
B.Pendekatan dalam memecahkan problem di kelas
BAB III
HASIL OBSERVASI
Observasi dilakukan di MI Miftahul Ulum Braja Selebah, Lampung Timur. Ketika penyusun datang ke sekolah tersebut sedang diadakan Try Out bagi kelas VI dan proses belajar mengajar tidak dilangsungkan di kelas melainkan diliburkan. Namun saya dapat menemui wali kelas 4, yaitu Ibu Fatim, dan menanyakan problem-problem apasajakah yang terjadi di kelas beliau. Beliau menjelaskan bahwa di kelas tersebut terdapat 45 siswa siswi, 20 siswa laki-laki dan 25 siswi perempuan. Dengan jumlah siswa yang banyak dikelas tersebut, guru sedikit kesulitan awalnya, namun seiring berjalannya waktu, guru merasa terbiasa. Di kelas tersebut terdapat beberapa anak yang memiliki keterbatasan sehingga kurang mampu untuk mengikuti pembelajaran sehingga tertinggal dengan teman-temannya. Disamping itu anak tersebut juga masih kesulitan dalam membaca sampai kelas 4 ini. Upaya-upaya telah dilakukan mulai dari pendekatan-pendekatan yang dilakukan oleh guru. Siswa tersebut merupakan pindahan dari MI dari desa lain, sehingga murid tersebut memang bukan murid yang dari kelas satu sudah belajar di MI Miftahul Ulum. Guru juga sudah melakukan perbincangan dengan orang tua murid tersebut, dan memang anak tersebut memiliki kekurangan dan susah dalam menerima materi yang diajarkan.
BAB IV
PENUTUP
A.Kesimpulan
Dilihat dari penjabaran diatas dapat diambil kesimpulan bahwa perilaku menyimpang adalah suatu persoalan yang harus menjadi kepedulian guru, bukan semata-mata perilaku itu destruktif atau mengganggu proses pembelajaran, melainkan suatu bentuk perilaku agresif atau pasif yang dapat menimbulkan kesulitan dalam bekerja sama dengan teman, yang merupakan perilaku yang dapat menimbulkan masalah belajar anak dan hal itu termasuk perilaku bermasalah. Banyak pendekatan yang bisa dilakukan oleh guru dalam memecahkan problem di kelas, antara lain : pendekatan individual, kelompok, edukatif, keagamaan, dan masih banyak lagi pendekatan yang bisa dipergunakan guru dalam mengatasi problem di kelas.
B.Saran
Melalui makalah ini semoga dapat memberikan kita pengetahuan baru untuk membantu bagaimana cara memahami kemudian memberikan solusi dalam menghadapi kemungkinan-kemungkinan masalah yang datang pada peserta didik. Sebagai calon guru, kita harus mengerti karakter siswa yang kita didik. Jadi ketika peerta didik kita mengalami masalah dalam belajar, kita dapat mengetahui langkah apa yang akan kita ambil, pendekatan apa yang akan kita pakai untuk mengatasi problem tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
1.M.Dalyono.2010. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
2.Aunurrahman.2009. Belajar dan Pembelajaran. Bandung Al-fabeta.
3.Akla.2004.Strategi Belajar Mengajar.Metro: STAIN JUSI Metro.
4.Hurlock, Elizabeth. B. 2004. Perkembangan Anak Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
5.Darwis, Abu. 2006. Perilaku Menyimpang Murid SD. Jakarta.
6.Bahri Djamarah, Saiful. 2010. Strategi belajar mengajar. Jakarta : Rineka cipta.
Masalah Emosi dan Perilaku pada Anak dan
Remaja di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSUPN
dr. Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta
Tjhin Wiguna,* Paul Samuel Kris Manengkei,** Christa Pamela,**
Agung Muhammad Rheza,**Windy Atika Hapsari**
* Divisi Psikiatri Anak dan Remaja, Departemen Psikiatri FKUI/RSUPN-CM
**Mahasiswa S1, Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia
Latar belakang. Anak dengan masalah emosi dan perilaku mempunyai kerentanan untuk mengalami
hendaya dalam fungsi kehidupan sehari-hari, terutama dalam fungsi belajar dan sosialisasi. Masalah tersebut
seringkali sulit dikenali oleh orangtua sehingga anak dengan masalah ini datang berobat dalam kondisi
yang cukup berat.
Tujuan. Untuk mengetahui persepsi orangtua terhadap perubahan emosi dan perilaku pada anak mereka
pada saat berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSCM Jakarta selama periode November
2009–Mei 2010.
Metode. Penelitian deskriptif dengan menggunakan data sekunder dari catatan medik anak dan remaja di
Poliklinik Anak dan Remaja RSCM, selama periode November 2009 – Mei 2010. Kriteria inklusi adalah,
catatan medik lengkap mengenai data anak beserta orangtuanya, dan kuesioner Strength and Difficulties
Questionaire (SDQ) diisi dengan lengkap.
Hasil. Selama periode enam bulan didapatkan 161 subjek penelitian yang memenuhi kriteria yang sudah
ditentukan. Enam puluh lima koma sembilan puluh persen dari seluruh subjek penelitian berada pada usia
kurang dari 12 tahun dan mempunyai tingkat pendidikan setara dengan sekolah dasar. Proporsi terbesar
adalah masalah hubungan dengan teman sebaya 54,81%, dan masalah emosional 42,2%.
Kesimpulan. Masalah teman sebaya dan emosi merupakan masalah yang terbesar yang dijumpai pada pasien
anak dan remaja yang datang berobat ke Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja RSCM. Perlu dipertimbangkan
untuk menerapkan suatu program keterampilan sosial di masyarakat atau sekolah sehingga diharapkan
dapat menurunkan masalah ini di kemudian hari. Sari Pediatri 2010;12(4):270-7.
Kata kunci: emosi, perilaku, anak, SDQ.
Alamat korespondensi:
Dr. dr. Tjhin Wiguna, SpKJ(K), Staf Pengajar Divisi Psikiatri Anak dan
Remaja, Departemen Psikiatri FKUI/RSCM, Jalan Kimia 2/35, Jakarta
10430. Telepon/Fax 021310741, 02139899128
271
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
hendaya dan menurunkan produktivitas serta kualitas
hidup mereka. Satu setengah juta anak dan remaja
di Amerika Serikat dilaporkan oleh orangtuanya,
memiliki masalah emosional, perkembangan, dan
perilaku yang persisten. Sebagai contoh, 41% orang
tua di Amerika Serikat khawatir anaknya mengalami
kesulitan belajar dan 36% khawatir akan mengalami
gangguan depresi atau ansietas.1
Di Singapura, 12,5% anak usia 6–12 tahun
memiliki masalah emosi dan perilaku.2 Salah satu
faktor yang dikaitkan dengan timbulnya masalah ini
adalah kehidupan di kota besar yang penuh dengan
tuntutan dan tekanan bagi perkembangan dan
pertumbuhan anak dan remaja, sedangkan faktor usia
anak, jenis kelamin, dan perkerjaan orangtua hampir
dikatakan tidak berpengaruh terhadap timbulnya
masalah tersebut.3
Berbagai stresor psikososial seringkali dikaitkan
dengan terjadinya masalah emosi dan perilaku pada
anak dan remaja, seperti adanya penyakit fisik, pola
asuh yang inadekuat, kekerasan dalam rumah tangga,
hubungan dengan teman sebaya yang inadekuat, serta
kemiskinan. Stresor psikososial tersebut mempengaruhi
proses perkembangan kognitif anak sehingga anak
lebih memandang negatif lingkungan sekitar dan juga
persepsi yang negatif mengenai dirinya. Disamping itu,
stresor psikososial juga berkaitan dengan peningkatan
emosi negatif, perilaku disruptif dan impulsif, serta
menimbulkan cara-cara interaksi yang negatif sehingga
berdampak pada hubungan dengan teman sebaya yang
tidak optimal.4,5
Masalah emosi dan perilaku yang terjadi berdampak
terhadap tumbuh kembang dan kehidupan
sehari-hari anak. Gangguan perkembangan kognitif,
kesulitan dalam belajar karena mereka tidak mampu
berkonsentrasi terhadap pelajaran, kemampuan
mengingat yang buruk, atau bertingkah yang tidak
sesuai di dalam lingkungan sekolah, akan meningkatkan
angka kenakalan dan kriminalitas di masa
dewasa.4
Anak dengan masalah emosi dan perilaku seringkali
mengalami perlakukan yang tidak sesuai dari
lingkungannya yang dapat berupa stigma negatif.
Guru merasa sulit mengajari mereka, melihat
mereka sebagai anak-anak bodoh, sehingga jarang
memberikan masukan yang positif. Teman sebaya
menjauhi mereka, sehingga kesempatan untuk belajar
bersosialisasi menjadi berkurang. Orangtua lebih
banyak memberikan kritik negatif sehingga tidak
jarang interaksi antara orangtua dan anak menjadi
terputus5,6
Melihat sedemikian luasnya faktor risiko dan
dampak yang mungkin terjadi maka sudah sewajarnya
orangtua atau guru harus lebih menyadari kondisi ini
dengan melakukan deteksi dini sehingga masalah emosi
dan perilaku pada anak dan remaja dapat ditangani
sedini mungkin untuk menghindari terjadinya
gangguan jiwa di kemudian hari. Dengan demikian,
orangtua merupakan salah satu kunci penting dalam
mendeteksi masalah emosi dan perilaku dan juga
merupakan kunci keberhasilan tatalaksana yang akan
diberikan pada anak mereka.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data
yang berkaitan dengan persepsi orangtua terhadap
perubahan emosi dan perilaku anak mereka pada saat
berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak dan Remaja
RSCM, Jakarta selama periode November 2009 – Mei
2010 sehingga dapat memberikan gambaran seberapa
jauh orangtua dapat mendeteksi masalah emosi dan
perilaku pada anak mereka.
Metode
Telah dilakukan penelitian deskriptif dengan rancangan
potong lintang. Data sekunder di peroleh dari catatan
medik anak dan remaja yang berobat di Poliklinik Anak
dan Remaja RSCM selama periode November 2009 –
Mei 2010. Maka subjek penelitian adalah seluruh anak
dan remaja yang datang berobat di Poliklinik Anak
dan Remaja RSCM dalam periode penelitian yang
memenuhi kriteria inklusi yaitu catatan medik lengkap,
berisi data anak beserta orangtuanya dan mengisi alat
skrining SDQ dengan lengkap.
Skrining SDQ merupakan suatu alat yang
dikembangkan oleh Robert Goodman pada tahun
1997, alat skrining tersebut sudah diterjemahkan
ke dalam berbagai bahasa di dunia termasuk dalam
Bahasa Indonesia. Skrining SDQ terdiri dari 25 buah
pernyataan yang dapat dikelompokkan menjadi lima
domain yaitu, (1) gejala emosional (5 pernyataan),
(2) masalah conduct (5 pernyataan), (3) hiperaktivitas
(5 pernyataan), (4) masalah hubungan dengan teman
sebaya (5 pernyataan), dan (5) perilaku prososial (5
pernyataan). Setiap pernyataan dijawab oleh orangtua
atau remaja dengan tidak pernah (skor 0), kadang benar
(skor 1), dan selalu benar (skor 2).7
Hasil akhir penelitian menitikberatkan masalah
272
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
distribusi frekuensi. Hasil akhir disajikan dalam bentuk
tabular dan tekstular.
Hasil
Selama periode enam bulan didapatkan 161 subjek
penelitian yang memenuhi kriteria yang sudah
ditentukan. Enam puluh lima koma sembilan puluh
persen dari seluruh subjek penelitian berada pada
usia kurang dari 12 tahun dan mempunyai tingkat
pendidikan setara dengan sekolah dasar. Proporsi
subjek penelitian dengan jenis kelamin laki-laki lebih
banyak daripada perempuan (Tabel 1).
Proporsi terbesar usia ayah subjek di atas 40
tahun (60,9%) dan usia ibu di bawah 40 tahun
(53,4%). Proporsi tingkat pendidikan tertinggi ayah
dan ibu adalah SMA (44,1% dan 41,6%). Umumnya
orangtua subjek penelitian berasal dari kelompok sosial
ekonomi menengah berdasarkan tingkat pendapatan
keluarga (76,4%) dan bekerja sebagai pegawai swasta
(49,1%).
Proporsi terbesar adalah masalah hubungan dengan
teman sebaya 54,81%, dan masalah emosional 42,2%
(Tabel 2). Anak yang berusia kurang dari 12 tahun
lebih banyak mengalami masalah hubungan dengan
teman sebaya (39,1%), sedangkan remaja lebih banyak
mengalami masalah emosi (33,5%) (Gambar 1). Anak
emosi dan perilaku anak dan remaja, yaitu dengan
menganalisis domain masalah emosi, masalah conduct,
hiperaktivitas, dan masalah hubungan dengan teman
sebaya, tanpa menganalisis skala prososial.
Sebelum analisis data dilakukan, pertama-tama
dilakukan pembersihan data. Penilaian SDQ dilakukan
dengan menjumlahkan angka-angka yang merupakan
jawaban dari pertanyaan dalam alat skrining SDQ.
Data yang terkumpul dimasukan ke dalam tabel,
dilakukan pengolahan dengan menghitung skor
yang tertinggi dan skor terendah untuk menentukan
Tabel 1. Sebaran subjek penelitian berdasarkan karakteristik
demografis (n=161)
Karakteristik Jumlah Persentase
Gambar 1. Proporsi masalah emosi dan perilaku berdasarkan
kelompok usia dan domain masalah (n=155)
Tabel 2. Sebaran karakteristik masalah emosi dan perilaku subjek penelitian berdasarkan SDQ (n=161)
Masalah emosi dan perilaku Normal (%) Borderline (%) Abnormal (%)
Masalah emosi
Masalah conduct
Hiperaktivitas
Masalah hubungan dengan teman sebaya
75 (46,6)
70 (43,5)
75 (45,1)
60 (36,1)
18 (11,2)
29 (18,0)
28 (16,8)
15 (9,1)
68 (42,2)
62 (38,5)
57 (38,1)
86 (54,8)
273
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
lelaki lebih banyak mengalami masalah hubungan
dengan teman sebaya, sedangkan anak perempuan
lebih banyak mengalami masalah emosi dan juga
masalah hubungan dengan teman sebaya (20,5%)
(Gambar 2).
Pembahasan
Berdasarkan hasil penelitian didapatkan beberapa data
yang menarik untuk didiskusikan. Orangtua lebih
banyak mengeluhkan masalah hubungan dengan
teman sebaya (54,8%) sebagai masalah utama anak
mereka yang berkonsultasi di Poliklinik Jiwa Anak
dan Remaja RSCM Jakarta. Permasalahan ini terutama
dijumpai pada anak lelaki yang masih berusia di bawah
12 tahun.
Orangtua mempunyai persepsi bahwa masalah
hubungan dengan teman sebaya merupakan masalah
yang cukup serius, terutama anak yang memasuki usia
remaja. Teman sebaya bagi anak yang berusia 9–13
tahun, paling besar pengaruhnya terhadap kehidupan
mereka sehari-hari disamping orangtua.6 Dengan
adanya masalah hubungan dengan teman sebaya ini
tentunya berdampak dalam fungsi keseharian anak
dan remaja sehingga membuat orangtua menjadi
lebih waspada dan membawa mereka untuk datang
berkonsultasi oleh karena adanya hendaya dalam
interaksi sehari-hari.
Masalah emosi merupakan masalah kedua dengan
proporsi cukup besar (42,2%) yang dikemukakan
oleh orangtua. Masalah emosi dalam SDQ mencakup
masalah depresi dan juga cemas. Garland (2001)8
melaporkan bahwa 33,6% anak yang datang ke pusat
pelayanan kesehatan jiwa dengan masalah emosi.
Angka yang didapatkan dalam penelitian kami
sedikit lebih tinggi daripada angka yang didapatkan
oleh penelitian yang dilakukan oleh Garland.
Anak perempuan di bawah usia 12 tahun ternyata
mengalami masalah emosi yang lebih banyak pada
penelitian kami, kondisi ini sesuai dengan penelitian
yang telah dilakukan di berbagai negara.9 Masalah
emosi yang dinilai termasuk gejala depresi dan cemas,
karena dalam periode usia ini anak mengalami krisis
perkembangan. Anak mengalami perubahan hormonal
dan juga perubahan sikap lingkungan sehingga lebih
memicu terjadinya masalah emosi bagi anak dengan
kerentanan tertentu.
Masalah conduct juga merupakan masalah perilaku
yang dijumpai pada anak dan remaja dengan proporsi
yang cukup besar terutama pada kelompok remaja.
Namun dijumpai proporsi yang lebih tinggi pada
anak di bawah usia 12 tahun, dan hasil ini berbeda
dengan berbagai hasil yang ditemukan dalam penelitian
di luar negeri.1,3,10 Beberapa hal yang mungkin
berkaitan dengan kondisi tersebut adalah RSUPNCM
merupakan rumah sakit rujukan yang sudah lama
memberikan pelayanan kesehatan jiwa sehingga lebih
banyak anak dengan masalah conduct berkonsultasi;
orangtua sudah lebih waspada dengan berbagai masalah
conduct sehingga mereka mencari pertolongan yang
lebih dini sebelum anak memasuki usia remaja; adanya
penggeseran perkembangan masa remaja ke usia yang
lebih awal sehingga masalah sudah tampak di periode
remaja awal.
Terdapat beberapa hal yang menjadi hipotesis
sehubungan dengan didapatkannya berbagai data
yaitu, 1) adanya tantangan hidup termasuk tantangan
di sekolah yang bertambah besar sehingga anak dan
remaja lebih banyak menginternalisasikan (dalam
bentuk masalah emosi) dan mengkesternalisasikan
(dalam bentuk masalah conduct dan hubungan
dengan sebaya) berbagai konflik yang ada dalam diri
mereka; 2) isu globalisasi sehingga arus informasi yang
datang begitu banyak dan anak dan remaja belum
menghadapinya dengan baik; dan 3) berbagai krisis
di kota besar yang berdampak dalam perkembangan
emosi anak dan remaja. Tentunya semua kondisi
tersebut masih perlu dilakukan pengkajian lebih
lanjut.
Gambar 2. Proporsi masalah emosi dan perilaku berdasarkan
jenis kelamin dan domain masalah (n=161)
274
Tjhin Wiguna dkk: Masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di poliklinik jiwa anak dan remaja RSUPN dr.
Ciptomangunkusumo (RSCM), Jakarta.
Sari Pediatri, Vol. 12, No. 4, Desember 2010
Penelitian kami tidak mencari berbagai faktor yang
berkaitan dengan terjadinya masalah emosi dan perilaku.
Disamping itu SDQ merupakan suatu alat skrining
yang diisi oleh orangtua maupun remaja sehingga dapat
terjadi bias pengisian yang tentunya sangat berpengaruh
terhadap hasil penelitian. Untuk itu disarankan agar
melakukan penelitian yang juga memasukan berbagai
faktor risiko yang mungkin berkaitan dengan terjadinya
masalah emosi dan perilaku pada anak dan remaja di
kemudian hari sehingga wawasan kita mengenai kondisi
ini bertambah banyak.
Daftar pustaka
1. Blanchard LT, Gurka MJ, Blackman JA. Emotional,
developmental, and behavioral health of American
children and teir families: A report from the 2003 national
survey of children’s health. Pediatrics.2006;117:1202-
12.
2. Woo BSC, Ng TP, Fung DSS, Chan YH, Lee YP, Koh
JBK, dkk. Emotional and behavioral problems in
Singaporean children based on parent, teacher, and child
reports. Singopre Med J. 2007;48:1100-6.
3. Erol N, Simsek Z, Oner O, Munir K. Behavioral and
emotional problemsamong Turkish children at ages
2 to 3 years. J Am Acad Child Adolesc Psychiatry
2005;44:80-5.
4. Gimpel GA. Holland ML. Emotional and behavioral
problmes in young children: effective interventions in the
preschool and kindergarten years. New York: Guilford;
2003.h.112-3.
5. Gelder MG, Lopez Ibor JJ, Andreasen N. New oxford
textbook of psychiatry. Oxford University Press; 2003.
h.123-5
6. Collett, B. R., Gimpel, G. A., Greenson, J. N., &
Gunderson, T. L. Assessment of discipline styles among
parents of preschool through school-age children. J
Psychopathol and Behavior Assess 2001;23:163-170.
7. Goodman R. The stregth and difficulties questionaire:
A research note. J Child Psychol Psychiatry.
1997;38:581-6
8. Garland AF, dkk. Prevalence of psychiatric disorders in
youth across five sectors of care. J Am Acad Child Adolesc
Psy 2001;40:409-18.
9. Verhulst FC. Epidemiology as a basis for conception and
planning for services. Dalam: Remschmidt H, Belfer
ML, Goodyer I, penyunting. Facilitating pathways care,
treatment and prevention in child and adolescent mental
health. Germany: Springer; 2004. h.3-15.
10. Fox L, Dunlap G, Powell D. Young children with
challenging behavior: Issues and consideration for
behaviora problem support. Journal of Positive Behavior
Intervention. 2002:4:208-17
BAB 1 PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Taylor menyatakan, salah satu aspek kebudayaan adalah norma atau perilaku terpilih yang dianut sebagian besar masyarakat. Copy paste dipilih dan dianut oleh sebagian besar mahasiswa, sehingga lama-kelamaan menjadi kebiasaan dan membudaya. Budaya copy paste dilatarbelakangi oleh kemalasan belajar dan belajar malas di kalangan mahasiswa. Akibatnya, tergeruslah jati diri mahasiswa. Mereka tak lagi percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir.
Mahasiswa sebagai kaum intelektual di masyarakat memiliki tiga peran utama. Pertama, sebagai pentransfer ilmu, teknologi, dan nilai. Mahasiswa memiliki peran untuk menyebarkan ilmu, turut serta dalam memberantas kebodohan. Sebagai pengguna terdekat teknologi, mahasiswa berperan menggunakan dan menciptakan teknologi yang tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat. Sebagai pentransfer nilai, diharapkan mahasiswa menjadi tuntunan moral intelektual bagi masyarakat.
Kedua, mahasiswa sebagai agent of change, agen perubahan, turut serta dalam proses pembangunan dan pergerakan. Dalam pembangunan masyarakat dan bangsa, mahasiswa merupakan sumber daya manusia yang potensial karena terdidik dan terpelajar.
Dalam pergerakan, mahasiswa diharapkan mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa. Ketiga, mahasiswa sebagai kaum intelektual semestinya mampu mempertanggungjawabkan intelektualitasnya pada diri sendiri dan masyarakat.
Budaya copy paste membuat ruang kritis mahasiswa menyempit. Itu terlihat dari makin minim budaya membaca, budaya diskusi, dan budaya beprestasi. Padahal, budaya-budaya itu merupakan penumbuh budaya intelektual. Jika budaya-budaya itu tergusur oleh budaya copy paste, tergusurlah ranah intelektualitas yang seharusnya dimiliki kalangan mahasiswa.
Sebenarnya copy paste boleh-boleh saja, asal tidak meninggalkan unsur kekritisan. Karena kekritisan akan memunculkan budaya baru, yaitu budaya kreatif dan produktif. Tanpa kekritisan akan mengakibatkan kematian dalam berpikir. Kematian berpikir tentu mengakibatkan kematian bertindak.
1.2 Tujuan
• Menumbuhkan budaya intelektual
• Menumbuhkan rasa percaya diri,kemampuan berpikir dan potensi belajar
• menghadapi rasa malas dalam belajar dikalangan mahasiswa.
• Menumbuhkan budaya kreatif dan produktif
1.3Sasaran
• Menyelesaikan masalah-masalah tentang Perilaku malas.
• Meningkatkan kreatifitas mahasiswa
• Menumbuhkan pergerakan mahasiswa mengurangi rasa malas
• Terwujudnya kepribadian yang baik
BAB II PERMASALAHAN
Analisis permasalahan Perilaku Malas Cenderung Membudaya Dikalangan Mahasiswa dengan memperhatikan dan mempertimbangkan kondisi lingkungan internal maupun eksternal dilihat dari aspek :
1. Kekuatan (Strength)
a) Mahasiswa memiliki peran untuk menyebarkan ilmu
b) turut serta dalam memberantas kebodohan.
c) mahasiswa menjadi tuntunan moral intelektual bagi masyarakat.
d) turut serta dalam proses pembangunan dan pergerakan.
2. Kelemahan (Weakness)
a) Terjebak dalam kebiasaan buruk yaitu rasa malas pada mahasiswa
b) Budaya copy paste dilatarbelakangi oleh kemalasan belajar dan belajar malas di kalangan mahasiswa.
c) Tak lagi percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir akibat dari rasa malas pada mahasiswa.
d) Budaya copy paste membuat ruang kritis mahasiswa menyempit.
3. Peluang (Opportunity)
a) Mahasiswa berperan menggunakan dan menciptakan teknologi yang tepat guna untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat.
b) merupakan sumber daya manusia yang potensial karena terdidik dan terpelajar.
c) mahasiswa mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa.
d) Mahasiwa sebagai generasi penerus bangsa yang kreatif,produktif,dan
berprestasi dalam cerminan bangsa dan dunia.
4. Tantangan/Hambatan (Threats)
a) Kurangnya sumber daya manusia yang potensial.
b) Kurangnya fasilitas sarana dan prasarana.
c) Terbatasnya nilai ekonomi pada masyarakat sehingga banyak mahasiswa yang putus kuliah.
d) kurangnya percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir yang menghambat pada mahasiswa.
BAB III KESIMPULAN DAN REKOMENDASI
1. Kesimpulan
Kesimpulan yang di ambil dari makalah yang saya buat adalah membahas tentang SWOT (Strength, Weakness, Opportunity, Threat) dari Perilaku Malas Cenderung Membudaya Dikalangan Mahasiswa yang menyebabkan kemalasan belajar dan belajar malas di kalangan mahasiswa, Mereka tak lagi percaya diri dengan potensi dan kemampuan berpikir. Oleh,karena itu mahasiwa harus dapat berubah menjadi lebih baik,berprestasi,kreatif,dan produktif. karena mahasiswa memiliki peran untuk menyebarkan ilmu, turut serta dalam memberantas kebodohan,dan mahasiswa mampu menyuarakan aspirasi masyarakat sehingga terciptalah perubahan di masyarakat dan bangsa.
2. Rekomendasi
a) Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat karena itu mahasiswa menjadi tuntunan moral intelektual bagi masyarakat.
b) Mahasiswa harus membiasakan sifat rajin belajar dan mengelola waktu dengan baik agar tidakTerjebak dalam kebiasaan buruk yaitu rasa malas pada mahasiswa
c) Mahasiswa harus diberikan dukungan dalam prestasi karena Mahasiwa sebagai generasi penerus bangsa yang kreatif,produktif, dan berprestasi dalam cerminan bangsa dan dunia.
d) Pemerintah seharusnya membantu mahasiswa yang kurang mampu seperti memberikan beasiswa kepada mahasiswa berprestasi untuk meningkatkan semangat belajar para mahasiswa dan mengurangi sumber daya manusia yang rendah.
3. Referensi
http://suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2011/02/12/136770/Budaya-Copy-Paste-Mahasiswa
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Pada dasarnya pendidikan berperan untuk meningkatkan kualitas
manusia, yaitu manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha
Esa, berbudi pekerti yang luhur, mandiri, maju, kreatif, trampil, bertanggung
jawab, produktif serta sehat jasmani dan rohani, sehingga mampu menghadapi
segala perubahan era globalisasi yang menuntut kesiapan sumber daya manusia
bukan hanya sebagai penonton, tetapi juga harus mampu sebagai pelaku.
Konsekuensi dari masuknya budaya asing, pelaku bisnis, politik, ekonomi, dan
sebagainya, bahkan nilai-nilai budaya asing, seperti perilaku free sex,
pergaulan bebas tanpa batas dan bertolak belakang dengan budaya bangsa
Indonesia, yang mampu menggeser budaya bangsa Indonesia. Untuk itu, yang
mampu menghadapi masalah dan perubahan zaman adalah pemahaman budaya
masyarakat perlu ditanamkan pada siswa sehingga mampu memilah dan
memilih yang terbaik untuk menentukan sikap perilaku yang terbaik bagi diri
sendiri dan bangsa Indonesia.
Kegiatan interaksi belajar mengajar harus selalu ditingkatkan efektifitas
dan efisiensinya. Dengan banyakya kegiatan pendidikan di sekolah, dalam
usaha meningkatkan mutu dan frekuensi isi pembelajaran, maka sangat
menyita waktu siswa untuk mengatasi keadaan tersebut, guru perlu
memberikan tugas-tugas di luar jam pelajaran. Disebabkan bila hanya
menggunakan seluruh jam pelajaran. Disebabkan bila hanya menggunakan
2
2
seluruh jam pembelajaran yang ada untuk tiap mata pelajaran hal itu tidak akan
mencukupi tuntutan di dalam kurikulum. Dengan demikian perlu diberikan
tugas-tugas, sebagai selingan untuk variasi teknik penyajian ataupun dapat
berupa pekerjaan rumah. Tugas semacam itu dapat dikerjakan di luar jam
pelajaran, di rumah maupun sebelum pulang, dan atau kegiatan ekstrakurikuler,
sehingga dapat dikerjakan bersama temannya.
Seperti yang berlangsung pada kegiatan ekstrakurikuler yang berupa
seni budaya yang bertujuan untuk meningkatkan kepedulian, menanamkan
kesadaran, dan membina mental siswa serta menumbuhkembangkan sikap
perilaku siswa agar sanggup menerima, memahami, dan mengerti tentang
kebudayaan, baik budaya tradisional, budaya masyarakat maupun budaya asing
yang bersifat selektif.
Apakah budaya? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang telah ditanyakan
dan dicari jawabnya sejak era Ibnu Khaldun sampai saat ini. Seolah-olah
jawaban atas pertanyaan itu tidak pernah ada, atau mungkin ketika ditemukan
jawabannya oleh seseorang, maka yang didefinisikan itu (budaya) lantas
berubah. Oleh karenanya orang tak pernah sampai pada keputusan final yang
disepakati oleh semua orang. Apalagi budaya dilihat dari kacamata berlainan
tergantung yang melihatnya. Alhasil konsep budaya berbeda-beda tergantung
siapa yang mendefinisikan konsep tersebut. Dalam buku-buku pengantar
antropologi selalu disebutkan hasil temuan Kroeber & Kluckhon yang
mengidentifikasi definisi budaya. Mereka mencatat sekurang-kurangnya
terdapat 169 definisi berbeda. Hal itu menunjukkan betapa beragamnya sudut
pandang yang digunakan untuk melihat budaya. Masing-masing disiplin ilmu
3
3
memiliki sudut pandangnya sendiri. Bahkan di dalam satu disiplin ilmu
terdapat perbedaan karena pendekatan yang digunakan berbeda. Dalam disiplin
ilmu psikologi misalnya, mungkin saja mereka yang tertarik dengan persoalan
emosi akan mendefinisikan berbeda dengan mereka yang tertarik pada
persoalan kesehatan mental (Mendatu, 2007. “Apakah Budaya”.
www.psikologi.omline.co.id.)
Kemampuan beradaptasi atau penyesuaian diri merupakan bentuk
perilaku pada umumnya yang didasarkan atas keseimbangan kemampuan akal
(kognisi) dan kemampuan rasa (afeksi), dan psikomotor, karena manusia tidak
hanya memiliki otak tetapi juga mempunyai emosi dan keterampilan, baik
keterampilan berkomunikasi maupun keterampilan fisik jasmaniah. Oleh
karena itu, kesadaran terhadap perbedaan daya pikir, emosi, dan keterampilan
manusia merupakan aspek penting keberhasilan penyesuaian diri. Mengingat
manusia tidak hanya berperilaku atas dasar kemampuan akal semata, tetapi
juga didasarkan pada kemampuan rasa, yakni kemampuan menilai perasaan
kepuasan diri sendiri dan orang lain dalam masa perkembangan yang timbul
dalam kehidupan sehari-hari.
Keseimbangan antara komponen kognisi, afeksi, dan psikomotor
mutlak diperlukan. Seseorang yang terlalu mengagungkan kecerdasan akalnya
tanpa diimbangi dengan kemampuan emosional atau sikap, dan psikomotor
diprediksikan bahwa dia akan dapat mengalami kegagalan dalam bersosialisasi
dengan lingkungannya. Kecakapan emosi bukan berarti memanjakan perasaan
dan mengistimewakan sikap, dalam arti memuaskan dirinya sendiri tanpa
memperhatikan orang lain, tetapi mengelola perasaan, sikap, dan keterampilan
4
4
sedemikian rupa sehingga terekspresikan secara tepat dan efektif, yang
memungkinkan orang bekerja sama dengan lancar menuju sasaran bersama.
B. Identifikasi Masalah
Kemampuan beradaptasi atau penyesuaian diri merupakan bentuk
perilaku pada umumnya yang didasarkan atas keseimbangan kemampuan akal
(kognisi) dan kemampuan rasa (afeksi), dan psikomotor, karena manusia tidak
hanya memiliki otak tetapi juga mempunyai emosi dan keterampilan, baik
keterampilan berkomunikasi maupun keterampilan fisik jasmaniah.
Perbedaan daya pikir, emosi, dan keterampilan manusia merupakan
aspek penting keberhasilan penyesuaian diri. Mengingat manusia tidak hanya
berperilaku atas dasar kemampuan akal semata, tetapi juga didasarkan pada
kemampuan rasa, yakni kemampuan menilai perasaan kepuasan diri sendiri dan
orang lain dalam masa perkembangan yang timbul dalam kehidupan seharihari.
Keseimbangan antara komponen kognisi, afeksi, dan psikomotor mutlak
diperlukan.
Seseorang yang mengagungkan kecerdasan akalnya tanpa diimbangi
dengan kemampuan emosional/ sikap, dan psikomotor diprediksikan dia akan
dapat mengalami kegagalan dalam bersosialisasi dengan lingkungannya.
Kecakapan emosi bukan berarti memanjakan perasaan dan mengistimewakan
sikap, dalam arti memuaskan dirinya sendiri tanpa memperhatikan orang lain,
tetapi mengelola perasaan, sikap, dan keterampilan sedemikian rupa sehingga
secara tepat memungkinkan bekerja sama dengan lancar menuju sasaran
bersama.
5
5
Aktivitas bebajar siswa, baik yang berlangsung di sekolah maupun di
luar sekolah, rumah atau tempat lain, senantiasa perlu memperhatikan
kemampuan beradaptasinya, sehingga diperoleh hasil belajar yang optimal,
yaitu menguasai materi yang dipelajari dan mampu berprestasi dengan baik.
C. Pembatasan Masalah
Penelitian ini dibatasi pada masalah budaya masyarakat, pergaulan
teman sebaya, dan perilaku sosial siswa SMA Negeri 1 Karangnongko
Kabupaten Klaten.
D. Rumusan Masalah
1. Adakah kontribusi budaya masyarakat dan pergaulan teman sebaya
terhadap perilaku sosial siswa SMA Negeri 1 Karangnongko Kabupaten
Klaten?
2. Adakah kontribusi budaya masyarakat terhadap perilaku sosial siswa SMA
Negeri 1 Karangnongko Kabupaten Klaten?
3. Adakah kontribusi pergaulan teman sebaya terhadap perilaku sosial siswa
SMA Negeri 1 Karangnongko Kabupaten Klaten?
E. Tujuan Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah ingin mendeskripsikan tentang
budaya masyarakat, pergaulan teman sebaya, dan perilaku sosial siswa.
Sedangkan tujuan khusus penelitian ini ingin mendeskripsikan tentang
kontribusi budaya masyarakat terhadap perilaku sosial siswa, kontribusi
6
6
pergaulan teman sebaya terhadap perilaku sosial siswa, dan kontribusi budaya
masyarakat dan pergaulan teman sebaya terhadap perilaku sosial siswa di
SMA Negeri 1 Karangnongko Klaten.
F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
Dapat digunakan sebagai referensi dan penelitian berikutnya yang
sejenis.
2. Manfaat Praktis
Sedangkan manfaat praktis bagi siswa, memberikan informasi arti
pentingnya budaya masyarakat dan pergaulan teman sebaya terhadap
perilaku sosial siswa di SMA Negeri 1 Karangnongko Klaten, bagi
masyarakat, memberikan masukan bahwa budaya masyarakat dapat
membentuk perilaku sosial dan membangun nilai-nilai pergaulan teman
sebaya terhadap perilaku sosial siswa di SMA Negeri 1 Karangnongko
Klaten.
Langganan:
Postingan (Atom)